Thursday, 27 June 2019

Bila Guru Kencing Berdiri

Sabtu, 23 Maret 2019 — 0:15 WIB
dul karung-240319

 

Oleh S Saiful Rahim
“ASTAGHFIRULLAH….” ucap Dul Karung fasih dan disambungkan langsung selepas dia mengucapkan kata assalamu ‘alaykum yang juga dengan amat fasih.

Lalu, seperti biasa, tangannya diulur mencomot singkong goreng yang masih kebul-kebul.

“Kenapa kau, Dul? Selepas mendoakan kami dengan ucapan assalamu ‘alaykum yang takzim kok kau sambung dengan ucapan istighfar? Ada musibah apa yang kau lihat, atau kau rasakan?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Aku kuatir Allah Swt akan, atau bahkan sudah atau sedang, mengazab kita semua,” kata Dul Karung sambil mengunyah singkong dengan mulut yang dimonyong-monyongkan karena kepanasan.

“Kalau begitu, mulai detik ini kau harus buang kebiasaanmu berutang. Terutama berutang di warung Mas Wargo ini. Utang itu mungkin suatu keberkahan bagi yang melakukannya, tetapi musibah bagi yang diutangi,” sela orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang. Dan senyuman pun tampil di hampir semua bibir hadirin. Kecuali di bibir Dul Karung dan bibir Mas Wargo yang jarang “nimbrung,” atau turut melibatkan diri, dalam obrolan para pelanggannya.

“Sudah, sudah, sudah. Marilah kita sama-sama mulai menghentikan kebiasaan saling sindir, apalagi saling ejek di antara teman-teman. Beberapa hari lagi kita semua akan memasuki hari-hari penting. Sama-sama kita akan memilih pemimpin negeri yang kita cintai ini. Pusatkan perhatian kita ke sana, agar tidak salah pilih. Satu menit salah coblos di bilik suara lima tahun akan terus-menerus mengurut dada, ” kata orang yang duduk selang tiga di kanan Dul Karung. Dari tutur kata dan penampilannya yang necis mudah sekali diketahui dia bukan warga kelas warung kopi Mas Wargo.

“Maaf, Pak! Sekali lagi maaf. Bolehkah saya tahu, apakah Bapak ini salah seorang caleg? Kalau capres atau cawapres sudah pasti bukan. Tetapi kalau caleg kan mungkin saja. Sebab, sekali lagi maaf ya, Pak. Tiga hari yang lalu saya baca di koran ada caleg ditangkap polisi karena menjadi pemimpin perampok. Nah, bila perampok saja bisa terdaftar sebagai caleg, apalagi orang yang penampilannya seperti Bapak? Wah! Sekali lagi maaf!”

“Stoppp! Cukup!” bentak orang yang berpakaian necis memotong kalimat orang yang gagap.

“Saya ini bukan caleg. Karena saya merasa yakin tidak layak menjadi caleg. Tetapi kalau ada caleg yang jadi pemimpin perampokan saya tidak heran. Kan kita semua tahu, orang yang statusnya pemimpin lembaga legislatif pun ada yang ditangkap karena korupsi. Ada dan bahkan banyak, pemimpin partai yang ditangkap KPK juga karena korupsi.

Nah, kalau beliau-beliau yang di arena pimpinan partai politik bisa ketularan penyakit moral sejenis korupsi dan jenis-jenis lainnya, tak aneh bila mereka yang berada di lembaga legislatif, eksekutif, yudikatif, dan yang lain motif, begitu juga,” sambung si busana necis yang rupanya juga trampil berceloteh dengan bahasa yang ala warung kopi Mas Wargo.

“Yah, kalau kata guru SD-ku yang suka mengutip pepatah, itu kiasnya adalah “Bila guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Kata Dul Karung sambil pergi meninggalkan warung Mas Wargo tanpa membayar dulu apa yang dimakan dan diminumnya, dan juga tanpa berlari. Karena dia tidak ingin kencing. (***)