Friday, 19 July 2019

Buruh Pelabuhan Usia 70 Tahun Masih Mampu Biayai Dua Anak

Sabtu, 23 Maret 2019 — 0:14 WIB
Atoy buruh pelabuhan

Atoy buruh pelabuhan

JAKARTA – Pekerjaan adalah sumber kehidupan. Bagaimana nasib keluarga bila pekerjaan itu hilang. Itulah yang dialami ribuan buruh atau tenaga kerja bongkar muat (TKBM) Pelabuhan Tanjung Priok. Selama beberapa tahun ini, mereka hanya bekerja satu kali dalam seminggu.

Tak seorang pun ingin kehilangan pekerjaan. Semua ingin tetap bekerja buat memenuhi kebutuhan hidup mereka bersama keluarga. Meski tergolong pekerjaan berat, mereka tidak rela harus kehilangan pekerjaan.

TKBM di pelabuhan Tanjung Priok ini mengerjakan bongkar muat peti kemas tidaklah semudah yang dibayangkan banyak orang. Butuh ketekunan dan fisik yang kuat dan prima.

Namun seiring berkembangnya teknologi, pekerjaan para TKBM semakin berkurang. Kondisi inilah yang membuat TKBM terancam tidak bekerja lagi.

Atoy, pria berumur 70 tahun ini, mengaku dirinya bersama teman-temannya TKBM dalam satu bulan paling banyak bekerja 5 kali dan lebih seringnya hanya dua sampai 4 kali.

HINGGA RP100 RIBU

“Kita bekerja satu shift mulai dari jam delapan pagi sampai empat sore, cuma dibayar sekitar Rp80 ribu hingga Rp100 ribu. Padahal dari pemilik barang satu TKBM dibayar Rp150 ribu,” tutur Atoy yang ditemui tengah duduk di pintu masuk pelabuhan Pos VIII.

Ia mengaku mandor banyak memotong upah mereka dengan alasan buat makan dan lain-lain. “Ya kita terima nasib aja mas, cari kerja semakin susah,” ucapnya dengan nada lirih.
Lelaki asal Pandeglang mengaku sudah menjadi TKBM di Priok sejak tahun 1960 ini. Di zaman Orde Baru, ia mengaku hampir setiap hari bekerja. Tidak pernah kosong. Sehingga pendapatan yang diperoleh pun cukup lumayan. Bisa Rp2 juta/ bulan.

Sekarang satu bulan hanya memperoleh Rp500 ribu. Hanya cukup buat makan. Tak cukup buat bayar kontrakan. “Saya cari kerjaan sampingan kalau nggak ada bongkaran. Suka diajak ngawal barang sama sopir truk. Lumayan, suka dikasih Rp50 ribu sampai Rp100 ribu tergantung jaraknya,” katanya.

PIKIRKAN KAMI

Selain itu, istrinya kini hijrah ke Jakarta dan membantu bekerja. Sehingga sedikit bisa mengirim uang ke kampung buat biayai dua dari empat anaknya yang masih sekolah. “Dua anak saya sudah kerja, tinggal dua orang lagi masih sekolah,” katanya.

Atoy bersama teman-teman TKBM lainnya tidak bermimpi muluk. Mereka berharap pemerintah yang akan datang bisa lebih memperhatikan buruh seperti TKBM, sehingga bisa mendapat pekerjaan lagi dan saat pulang ke rumah membawa uang untuk menyambung hidup keluarga.

“Siapa yang jadi Presiden nanti, tolong perhatikan dan pikirkan nasib kami. Dulu zaman Pak Harto, nasib kita tidak sesusah sekarang,” tuturnya. (dwi/bi)