Tuesday, 23 April 2019

Pemimpin yang Diharapkan

Senin, 25 Maret 2019 — 5:50 WIB

Oleh Harmoko

ADALAH sulit mencari sosok pemimpin yang sempurna. Tapi kesempurnaan lah yang dituntut masyarakat pada sosok pemimpin di setiap negeri yang menganut demokrasi. Sedikit kelemahan sering dipersoalkan dan dijadikan senjata untuk menyerang. Dan itu terjadi di mana pun di negeri yang memberikan hak kepada rakyat untuk memilih pemimpinnya. Bukan negeri kerajaan atau negeri diktator totaliter.

Bahkan di Amerika Serikat, negeri yang mengutamakan kebebasan, dalam budayanya presiden dituntut sosok yang sempurna juga, bebas dari skandal, tak tercela, bahkan untuk urusan yang sekecil kecilnya pun. Rakyat menetapkan standar tinggi kepada pemimpinnya di satu sisi, dan kebebasan bereksrpesi dan berkehidupan bagi warganya di sisi lain. Cukup ironi.

Akan tetapi kita dapat menerima tuntutan itu sebagai hal yang sewajarnya – meski tak selalu bisa terpenuhi. Karena seorang pemimpin adalah cermin dari masyarakat dan wakil dari sebuah negeri. Di pundaknya beban ditanggungkan, dan aspirasi diwakilkan.

Budaya Jawa yang banyak mempengaruhi pola kepemimpinan di Indonesia, memperkenalkan ajaran Hasta Brata – delapan simbol alam semesta – bagi seorang pemimpin.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak bumi (Mahambeg Mring Kismo), yakni menjadi sumber kehidupan, memenuhi kebutuhan hidup, mengerti apa yang dibutuhkan rakyatnya.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak air (Mahambeg Mring Warih), yang mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak angin (Mahambeg Mring Samirana), berhembus kepada siapa pun di mana pun, memberikan nafas bagi rakyatnya, bersikap adil, tanpa pandang bulu dan tanpa tebang pilih.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak matahari (Mahambeg Mring Surya), pemimpin memberikan sinar kehidupan

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak bintang (Mahambeg Mring Kartika), pemimpin menjadi pedoman arah bagi rakyat dan teladan bagi anak buah yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak bulan (Mahambeg Mring Chandra), yang memberikan sinar terang dan sejuk serta keindahan saat gelap.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak gunung (Mahambeg Mring Wukir) , pemimpin berwatak teguh dan kokoh tidak menyerah dalam membela kebenaran, kuat dalam memegang prinsip.

Seorang pemimpin diharapkan meniru watak api (Mahambeg Mring Dahana), pemimpin memberikan energi positif, membakar semangat, menghangatkan hati.

Dengan meniru, memiliki watak dan kecakapan alam itu, pemimpin akan memiliki jiwa ksatria sebagai sarana mendarma-baktikan diri kepada negara dan rakyatnya.

Mari kita mulai bersikap dewasa dengan tak berlebihan menuntut dari seorang pemimpin. Di tengah perubahan dunia yang semakin cepat, kita membutuhkan pemimpin yang bisa membaca zaman, yang bisa mewujudkan impian masyarakat dan rakyat yang dipimpinnya, menuju negara yang sejahtera adil dan makmur. Aman damai.

Namun demikian, dalam sosoknya sebagai manusia tak ada orang yang sempurna. Dengan elemen- elemen alam sebagaimana dalam Hasta Brata, diharapkan melekat ciri- cirinya pada diri pemimpin kita. (*)