Wednesday, 17 July 2019

Ketika Keretapi Disambar Geledek

Sabtu, 6 April 2019 — 7:20 WIB
DUL-7

Oleh S Saiful Rahim

“SEKARANG aku tahu mengapa di zaman sosmed jarang orang menyumpah serapah dengan “semoga kamu disambar geledek!” kata seseorang yang masuk ke warung Mas Wargo dengan wajah tak enak dilihat.

Seperti juga kebiasaan pelanggan Mas Wargo yang lain, orang  itu pun sebelum masuk ke warung mengucapkan kata “assalamu ‘alaykum” dengan fasih.

“Tunggu dulu! Apa yang kau maksud dengan geledek?” tanya orang yang duduk dekat pintu masuk seraya bergeser memberi tempat untuk pendatang baru tersebut.

“Geledek itu petir. Dulu, ada kebiasaan orang Betawi bila kesal atau marah kepada seseorang, walau anaknya sendiri, diledakkan dengan sumpah serapah “Biar disambar geledek, lu!” sambar Dul Karung dengan lantang meskipun bukan dia yang ditanya.

“Kalau ada seorang ibu yang tega menyumpahi anaknya disambar geledek, apakah pernah ada geledek yang sampai hati menyambar anak yang dikutuk ibunya seperti itu?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, satu-satunya tempat duduk pelanggan warung kopi Mas Wargo.

“Sejak dulu aku belum pernah dengar berita tentang anak disambar geledek gara-gara disumpahi ibunya,” kata orang tertua yang hadir di warung itu.

“Tapi tadi pagi kubaca berita yang mengabarkan geledek atau petir kini seringkali menyambar listrik. Terutama yang digunakan oleh KRL. Pekan lalu selama 3 hari ada 13 KRL yang melayani jurusan Jakarta-Bogor, Jakarta-Bekasi, dan Jakarta-Banten mogok di tengah jalan.  Salah satu penyebab, menurut keterangan pihak operator, adalah gangguan pada LAA yang sering disambar petir,” sambung si orang tertua.

“LAA itu apa, Pak?” tanya Mas Wargo ikut tergelitik ingin tahu.

“Kata sang pemberi keterangan sih, LAA adalah Listrik Aliran Atas,”  jawab yang ditanya.

“Oh kukira LAA itu adalah “Lu Asal-Asalan” saja dalam menjawab. Maklum di musim kampanye sekarang ini yang banyak  berkeliaran selain keterangan hoaks alias “ngibul,” adalah keterangan “asal-asalan” alias “omdo” kalau kata Pak Domo, dulu,” sambar Dul Karung seenaknya saja.

“Kau kalau ngomong jangan asal goyang bibir doang, dong. Tapi yang benarlah. Yang menyebut LAA itu pejabat yang berkompetensi lho, Dul!” sambar orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Ya, kalau begitu LAA yang maksudnya “Listrik Aliran Atas” itu cepatlah benahi sebelum menjadi “Listrik Acak-Acakan.” KRL kan sudah jadi tulang punggung dan harapan besar wargakota Jabodetabek yang butuh angkutan umum sebagai pengantar ke tempat berusaha. Entah bekerja atau berniaga.

Temanku yang tinggal di BSD dan kerjanya ke Jakarta, hari Jumat pekan lalu dan Senin awal pekan ini berturut-turut dibuat kalang kabut. KRL yang ditumpanginya tak bisa jalan mulus walaupun jalanannya lurus.

Jumat pekan lalu tertahan di Kebayoran, dan Senin  pekan ini tertahan di Sudimara. “Dua kali aku kehilangan ‘Asarku. Mau turun untuk salat ‘Asar dulu takut KRLnya jalan,” katanya dengan akting penuh sesal. ( *** )