Thursday, 18 July 2019

Menjalin Persatuan

Senin, 8 April 2019 — 5:05 WIB

Oleh Harmoko

BANYAK warga yang menginginkan Pemilihan Presiden 2019 dan juga pemilihan anggota legislatif serta perwakilan daerah segera diselenggarakan, bukan semata- mata ingin pesta demokrasi berlangsung, melainkan agar kita bebas dari waswas terjadi perpecahan.

Sebab, terasa perbedaan pilihan juga berdampak pada hubungan antar- anak bangsa. Antar -teman, rekan, kolega, dan bahkan saudara. Semoga setelah pemilihan berlangsung dan pesta demokrasi berlalu, kita bisa kembali “normal,” hidup dalam persatuan dan kesatuan sebagaimana sebelumnya.

Perbedaan adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada kita umat manusia. Berbeda bukan hanya dalam hal fisik, bentuk wajah, warna kulit, latar belakang budaya, suku dan agama, juga dalam pilihan politik. Hal yang sesungguhnya dijamin di alam demokrasi Pancasila

Justru melalui perbedaanlah terbentuk sebuah peradaban umat manusia yang bisa saling menjaga antar-sesama.

Akan tetapi, bukan rahasia lagi, sejak penyelenggaraan pemilihan Gubernur DKI Jakarta dan berlanjut hingga pemilihan presiden kini, isu yang sekarang sedang ramai baik di media massa maupun masyarakat Indonesia umumnya, adalah perbedaan pilihan tokoh dan politik, melahirkan tindakan-tindakan dan sikap yang mencederai identitas bangsa Indonesia yang dikenal dengan kemajemukan penduduknya.

Sudah lama Indonesia dikenal dengan banyaknya ras, suku, bahasa, dan agama. Indonesia sejak berdiri dan bisa menjadi seperti sekarang bukanlah hasil dari individu atau kelompok tertentu. Tapi dari kesepakatan dan kesadaran bersama.

Perbedaan dalam pilihan politik dan tokoh, bila merembet pada sikap intoleransi sesama warga bila berlangsung terus bisa merusak bangunan yang ditinggalkan oleh para Bapak Pendiri Bangsa kita – founding fathers – yakni persatuan dan kesatuan dalam kebhinekaan.

Mari kita kembali kepada kesepakatan awal. Bahwa semua pihak telah sepakat Indonesia milik semua ras, suku, bahasa, dan agama. Juga pilihan politik. Anggapan, apalagi keyakinan, bahwa Indonesia berdiri berkat satu kelompok, harus segera dihilangkan. Karena realitanya memang tidak begitu.

Sebagaimana diamanatkan pada pembukaan UUD 1945, yaitu ”Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” menjelaskan bahwa semua kalangan memiliki hak dan wewenang sama dalam negara sehingga keadilan sosial dalam amanat UUD akan terlaksana. Asas permusyawaratan harus tetap dikedepankan.

Kain tenun dari para perajin Nusantara bisa bernilai jual tinggi karena berkat dari tali yang berbeda warna dirajut menjadi satu yang kemudian jadi kain.

Pertikaian akibat perbedaan selama ini telah cukup melelahkan dan menguras emosi semua pihak. Saatnya kini diakhiri dan semua kembali rukun bersatu dengan sesama anak bangsa.

Sebagaimana lembaran kain dalam banyak warna dan jalinan benang emas, Indonesia yang dikenal dengan banyaknya ras, suku, bahasa, dan agama harus bisa mengimplementasikan semboyan yang ada. Yaitu “Bhinneka Tunggal Ika” dan “Pancasila.”

Semoga perbedaan yang ada di sana-sini bisa dirajut menjadi satu kesatuan menjadi bangsa yang besar dan memiliki warna tersendiri. Mari mewujudkan kembali sebuah persatuan dan kesatuan Indonesia dengan bahu-membahu dalam mempertahankan, mengisi, dan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan kita sebagai bangsa dalam segala hal.

Mari kita menjalin persatuan dan kesatuan untuk Indonesia yang lebih gemilang di masa depan. (*)