Thursday, 18 July 2019

Stop ‘Serangan Fajar’

Kamis, 11 April 2019 — 6:30 WIB

Oleh H.Harmoko

DULU, “ serangan fajar” merupakan peristiwa penuh heroik dan patriotik. Pejuang, tentara dan rakyat bersatu padu menggempur markas Belanda di Yogyakarta dan sekitarnya. Perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan ini pun sempat difilmkan di tahun 1980 lewat sutradara Arifin C Noer dengan judul “Serangan Fajar” yang mendapat piala citra.

Kini istilah “serangan fajar” acap menjelma setiap menjelang pemilu. Tentu dalam makna dan kemasan yang berbeda. Lebih – lebih setelah KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap satu anggota dewan, yang juga caleg petahana karena diduga menerima suap. Terkuak uang suap tersebut akan digunakan untuk melakukan ‘ serangan fajar’ saat Pileg dan Pilpres. Peluru yang disiapkan untuk ‘serangan fajar’ senilai Rp 8 miliar yang dikemas dalam 400 ribu amplop.

Dalam dunia politik, serangan fajar adalah istilah untuk menyebut praktik politik uang untuk memenangkan seorang calon dalam pemilihan. Modusnya membeli suara pemilih dengan barter sejumlah uang, barang, hadiah, cendera mata atau apa pun namanya sebagai bentuk imbalan.

Agar dirasa efektif, maka pembelian suara itu dilakukan dini hari hingga fajar menjelang pencoblosan. Sementara kita tahu, tiga hari jelang pencoblosan sudah memasuki masa tenang, masa di mana terdapat larangan adanya kampanye politik, apalagi money politic.
Pada pileg dan pilpres kali ini, masa tenang ditetapkan sejak hari Minggu (14 April) hingga Selasa ( 16 April) 2019.

Selama masa tenang hendaknya rakyat benar – benar dibebaskan dari hiruk pikuk aktivitas politik. Rakyat harus diberi kesempatan dan keleluasaan untuk merenung, berkosentrasi diri, berpikir secara jernih siapa yang akan dipilih pada 17 April mendatang. Karena sesunggahnya semua itu memang hak mutlak rakyat, si pemegang kuasa tertinggi dalam demokrasi

Berilah ruang agar rakyat dapat menentukan pilihan secara objektif sesuai hati nurani, siapa pasangan capres- cawapres yang mampu memajukan bangsa dan negara kita. Siapa caleg yang mampu memperjuangkan aspirasi rakyat.

Semua pihak, tidak saja bagi penyelenggara pemilu, juga kontestan pemilu, termasuk tim suksesnya, wajib mendukung terciptanya ketenangan suasana.

Jangan usik rakyat dengan isu – isu yang menyesatkan. Apalagi yang menjurus kepada upaya adu domba, saling menjatuhkan, dan sebagainya.

Jangan perdaya rakyat dengan beragam iming-iming hadiah, uang, dan barang apa pun dengan syarat harus memilih sesuai pesanan.

Selama masa tenang hendaknya parpol peserta pemilu dan caleg lebih fokus kepada konsolidasi internal. Dengan timses, para saksi dan relawan dalam rangka mengawasi dan memantau jalannya pemungutan dan penghitungan suara. Sehingga pemilu dapat berjalan sebagaimana mestinya tanpa adanya kecurangan.

Bagi Komisi Pemilihan Umum (KPU) peluang itu bisa dijadikan momen meninjau kembali persiapan pemungutan suara. Apakah logistik pemilu sudah terpenuhi sesuai kebutuhan, distribusi tepat waktu hingga ke TPS, juga terjaminnya logistik pemilu dalam kondisi aman, tidak terselip atau tertukar.

Selama masa tenang, Bawaslu sangat diharapkan perannya dalam mengawasi persiapan pemungutan suara. Pengawasan terhadap kemungkinan masih adanya kampanye terselubung dengan berbagai modus yang sulit terendus sebagai pelanggaran.

Tidak kalah pentingnya mengintensifkan ‘patroli money politic’, mengingat politik uang bermodus ‘serangan fajar’ lazim dilakukan pada masa tenang. Terpetakan, intensitas kerawanan terjadi antara akhir masa tenang (pukul 00:01 Rabu dini hari) hingga saat pencoblosan.

Kita berharap pengawasan berlangsung secara transparan, profesional dan proporsional. Sikap netral dan profesional harus berlanjut pada tindak lanjut pengawasan, jika ditemukan adanya pelanggaran.

Dasar hukum penindakan sudah terukir secara jelas dan tegas sebagaimana tertuang dalam UU No 7 Tahun 1917 tentang Pemilihan Umum dan Peraturan Komisi Pemilihan Umum.

Mari jangan kotori masa tenang dengan beragam modus kecurangan. Satu kecurangan lolos, apalagi sampai ‘ terloloskan’ dari pengawasan, dapat menjadi embrio kecurangan massal.
Jangan ajari rakyat dengan kecurangan untuk meraih kemenangan. Lebih baik kalah dalam kemuliaan, ketimbang menang dalam kehinaan akibat kecurangan. Saatnya stop ‘serangan fajar’ jelang pencoblosan.(*)