Tuesday, 21 May 2019

Jangan-jangan Besok Kiamat, Nih!

Sabtu, 13 April 2019 — 5:11 WIB
DUL-KARUNG-14-APRIL-19

Oleh S Saiful Rahim

“MENGURUS air saja susah, apalagi mengurus tanah air ya?” kata Dul Karung yang baru masuk ke warung kopi Mas Wargo langsung menyambar singkong goreng yang masih kebul-kebul. Dan barulah kemudian dia duduk sambil mengunyah penuh nafsu.

“Aku bingung nih, ke mana sih arah pembicaraan Dul Karung?” kata orang yang duduk di dekat pintu masuk, yang telah bergeser demi memberi tempat Dul Karung duduk.

“Gitu aja repot,” sambar orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang meniru gaya Gus Dur yang terkenal.

“Dul Karung itu menyindir Pak Gubernur Anies yang sedang “basah-basahan” mengambil alih tata kelola air minum untuk warga Jakarta,” sambungnya sambil langsung menyeruput kopi susu.

“Menurutku Dul Karung bukan menyindir Bang Anies, justru mendukungnya. Urusan air minum untuk wargakota memang seharusnya berada di tangan Pemda dong,” kata seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Tapi soal mengurus air jangan dibanding-bandingkan dengan mengurus tanah airlah. Yang satu mengurus air saja, sedangkan yang satunya lagi mengurus air dan tanah. Jelas dong mengurus tanah air lebih susahlah,” bantah orang yang meniru omongan gaya Gus Dur.

“Ssst. Sudah-sudah. Janganlah mempertentangkan dua pendapat yang dua-duanya benar. Bang Anies pun selain sibuk mengurus air bersih untuk wargakotanya, beliau juga sedang mengurus tanahairnya. Bukankah tanahairnya kini sedang sibuk menyongsong Pemilu? Karena Ibukota tanah airnya itu berada di bawah pengelolaan tangan Bang Anies, maka apapun yang terjadi di tanah airnya pasti menyentuh wilayah, atau daerah khusus yang menjadi tanggung jawab beliau.”

“Cukup, cukup, cukup! Sampai di sini sajalah omongan kalian semua. Aku gak ngerti dan gak suka. Persis omongan atau isi pidato kampanye sebagian besar pemimpin parpol!” potong Mas Wargo dengan setengah berteriak.

Semua hadirin pun terkejut dibuatnya. Selama ini sang pemilik warung kopi itu hampir-hampir tak pernah terseret obrolan para pelanggannya. Tapi kali ini? Benar-benar bagai ledakan bersama guruh dan guntur di tengah terik mentari.

“Pada hari-hari terakhir menjelang ujung kampanye ini, yang kudengar adalah pemimpin atau pemimpi yang adu kuat teriak. Masing-masing pihak saling ejek, cerca, bahkan saling kutuk. Kalau bukan itu, adalah omongan kosong yang dulu dikenal dengan sebutan omongan atau obrolan warung kopi, kini pindah atau dipindahkan ke atas podium-podium orasi,” sambung Mas Wargo membuat Dul Karung melongo sehingga tanpa disadarinya lagi semua makanan yang telah dikunyah bertaburan dari mulutnya.

Yang lebih mengherankan semua hadirin warung kopi Mas Wargo, Dul Karung tiba-tiba mengeluarkan setumpuk uang dari tas yang selama ini belum pernah dibawa.

Mereka pun bertanya-tanya apakah Dul Karung kena “serangan fajar,” mendapat “saweran,” atau seperti bisikan salah seorang di antara mereka yang berkata: “Wah, jangan-jangan besok Hari Kiamat, nih!” ( *** )