Wednesday, 26 June 2019

Bukan Debat Terakhir

Senin, 15 April 2019 — 5:11 WIB
masa tenang

“HALO, sudah puas dengan acara debat  Capres dan Cawapres? Ini debat terakhir, berarti Bapak dan Ibu sudah bisa mengambil sikap. Artinya sudah mantap dengan pilihannya. Oke dah kalau begitu. Jangan sampai terganggu oleh siapapun, soal pilihan itu adalah hati nurani. Betul apa betul?” Sahabat Bang Jalil menelepon.

Bang Jalil hanya bisa menguping saja. Seperti biasanyalah, dia memang lebih suka mendengarkan, nggak ikut-ikutan ribut.Cape.

“Tapi Pak, dalam era demokrasi kayak begini, kita sebagai rakyat harus ikut andil!” kata sang istri, yang selalu saja bisa membaca pikiran sang suami. “ Jangan sampai kita ketinggalan jaman. Siapa tahu ada berita bagus, misalnya, ada pembagian sembako murah, atau gratis. Kan bisa Pak, kalau lagi deket-deket pemilu begini banyak yang bikin serangan. Membagi-bagikan amplop  dan sembako! Lumayan kan, selagi Bapak belum kasih uang belanja karena gajian telat, ” kata sang istri panjang lebar.

“Hemm, tapi kamu harus bertangung jawa lho, jangan cuma terima sembako sama amplopnya saja. Ingat juga siapa yang kasih?” kata Bang Jalil.

“ Lha, soal yang itu mah kan urusan di dalam bilik, Pak. Terus begini lho,suara kan nggak boleh dijualbelikan!” kata sang istri.

“ Ya, kalau begitu Ibu jangan terima  sembako  sama amplop,” kata  Bang Jalil.

“ Sekali lagi, kalau orang kasih kita terima, itu hukumnya!” ujar sang istri.

Eh, kita kok jadi berdebat? O, iya ya, buat kita mah nggak ada debat terakhir ya, Pak?  Terus, ngomong-ngomong, emang sudah ada yang menebar sembako? Terus itu, lho, Bapak jangan sampai terpengaruh, kalaupun nanti ada yang kasih serangan, Bapak juga harus kasih serangan balik, jangan kalah. Bapak harus kasih ibu lebih besar uang belanja. Ibu sehabis pemiliu mau nyerang mal!  -(massoes)