Thursday, 18 July 2019

Pesawat Terbesar di Dunia dan ‘Selebar Lapangan Sepakbola’ Terbang Perdana

Senin, 15 April 2019 — 7:48 WIB
Pesawat ini memiliki dua badan terpisah yang disatukan sayap sepanjang 117 meter - seluas lapangan sepak bola Amerika.

Pesawat ini memiliki dua badan terpisah yang disatukan sayap sepanjang 117 meter - seluas lapangan sepak bola Amerika.

AMERIKA- Pesawat terbesar di dunia, dengan sayap selebar lapangan sepak bola, telah melakukan penerbangan untuk pertama kalinya.

Dibuat oleh Stratolaunch, perusahaan yang didirikan pendiri Microsoft, Paul Allen pada 2011 lalu, pesawat ini dirancang sebagai landasan untuk meluncurkan satelit ke ruang angkasa.

Ide awalnya pesawat ini akan terbang hingga ketinggian 10 km sebelum melepaskan satelit atau wahana ruang angkasa lainnya ke orbit.
Pesawat ini memiliki dua badan terpisah yang disatukan sayap sepanjang 117 meter – seluas lapangan sepak bola Amerika.

Dengan demikian, Stratolaunch disebut sebagai pesawat dengan bentangan sayap terpanjang di dunia.
Apabila berhasil, keberadaan pesawat ini akan menekan biaya untuk meluncurkan wahana ke ruang angkasa ketimbang roket yang diluncurkan dari tanah.

Dalam penerbangan perdananya, pesawat yang memiliki enam mesin jet ini mampu terbang hingga ketinggian 4.572 meter dan mencapai kecepatan sekitar 274km/jam.

Kepada wartawan, pilot Evan Thomas mengatakan pengalaman menerbangkan Stratolaunch “sungguh fantastis” dan “pesawat mampu terbang seperti yang diperkirakan”.

Pesawat berbobot 226,7 ton ini terbang pertama kali di Mojave, California, AS, dan terbang selama 150 menit dan mendarat dengan selamat.

Seperti dijelaskan dalam situs resminya, Stratolaunch dibiat untuk “menerbangkan wahana ruang angkasa ke orbit.”

Perusahaan milik miliarder Inggris, Richard Branson, yaitu Virgin Galactic juga telah mengembangkan pesawat untuk tujuan meluncurkan roket ke orbit.

Stratolaunch menggambarkan pesawatnya sebagai “pesawat terbesar di dunia”, walaupun ada pesawat lainnya yang lebih panjang dari hidung hingga ke ekornya.(BBC)