Tuesday, 23 April 2019

Rukun Agawe Santosa

Senin, 15 April 2019 — 9:10 WIB

PARA orangtua di Jawa Kuna berkata dalam nasihatnya ‘Rukun Agawe Santosa’, yang artinya kerukunan akan membentuk sebuah kekuatan. Nasehat itu diberikan kepada anak-anak mereka yang kerap bertikai satu dan lainnya. Nasehat itu berlanjut, dengan sebutan, “Crah Agawe Bubrah” yang artinya bertikai dan bermusuhan antar- sesama hanya akan membuat kerusakan.

Nasehat itu nampaknya cocok buat kita di hari ini. Menjelang pemilihan presiden dan wakil rakyat di pusat dan daerah, pertentangan sesama anak bangsa akibat perbedaan pilihan tak terhindarkan. Sama- sama meyakini kebenaran atas pilihannya, dan menistakan, merendahkan pilihan mereka yang berbeda membuat sesama saudara saling bermusuhan satu dengan yang lain.

Di tengah masyarakat yang sangat majemuk, pertikaian antarsesamasangat mengkhawatirkan, karena berdampak pada rasa dan pikir setiap individu yang terlibat.

Semoga setelah Pilpres dan Pileg 2019 ini, kita kembali rukun seperti sebelumnya. Meski kita sama-sama menyadari tidak akan mudah.

Hidup yang rukun dengan keterbukaan dengan menyadari beragam perbedaan, mulai dari ras, suku, warna kulit dan agama harus disadari sebagai fakta yang tak terhindarkan. Sehingga sikap saling menerima itu akan membentuk kesatuan. Sama seperti satu tubuh yang terdiri dari banyak anggota.

Dalam kehidupan nyata, suasana rukun dan damai tidak selalu terjadi. Ada saja masalah yang membuat kerukunan tersebut rusak. Kadang dipicu oleh perselisihan, kesalahpahaman dan keegoisan yang berujung pada perang saudara hingga penerapan politik bumi hangus.

Konflik tidak selalu buruk sekiranya kedua pihak saling memberi tahu kelemahan lawan yang membuat pihak yang dituduh mengoreksi diri dan menyempurnakan kekurangan dan kesalahannya.

Namun konflik disarankan untuk dihindari. Sebaliknya kerukunan dipandang baik, sehingga banyak orang yang berupaya mencari dan mengusahakannya. Sebab, konflik sama dengan menghadirkan masuknya pihak ke tiga yang mengambil untung dari konflik yang terjadi.

Untuk mewujudkan kerukunan kita harus dapat saling menerima dan memperlakukan orang lain sebagai saudara. Sebagaimana semua agama besar mengajarkan bahkan juga ajaran budi luhur dari budaya-budaya besar yang ada di tanah nusantara ini.

Kita bisa menerima dan melayani pihak lain tanpa pandang bulu. Kita adalah anggota-anggota yang berbeda dalam satu tubuh yaitu Indonesia. Sakit yang dirasakan bagian tubuh yang satu maka akan dirasakan yang lainnya.

Tuhan Yang Maha Esa dengan agama-agama besar yang memuliakannya, menghendaki agar umat-Nya menjadi saksi bagi orang-orang yang masih hidup di tengah iri hati, perselisihan, kebencian, keributan dan keegoisan.

Pemilihan Presiden dan Wakil Rakyat “hanyalah” tahapan untuk mencapai kebersamaan dalam membangun Indonesia masa depan. Kita harus melewati tahapan itu untuk memulai hidup baru, dengan pemerintahan yang baru, atau kelanjutan dari pemerintahan yang lama ke yang baru.

Di atas semuanya kita satu Indonesia. Kerukunan sebagai sesama saudara adalah cerminan dari kerukunan yang dikehendaki oleh Tuhan Maha Esa yang kita muliakan bersama. (*)