Tuesday, 23 April 2019

Ketua Indonesia Inhalec : Halal Park Harus Diapresiasi

Selasa, 16 April 2019 — 19:27 WIB
Presiden Joko Widodo saat meresmikan Halal Park di kawasan Gelora  Bung Karno, Senayan, Jakarta. (ist)

Presiden Joko Widodo saat meresmikan Halal Park di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. (ist)

JAKARTA — Indonesia berambisi menjadi pemain utama di sektor industri halal dan keuangan syariah. Pembangunan Distrik Gaya Hidup Halal dinilai sebagai satu realisasi di tengah beragam rencana yang sejak dulu digaungkan pemerintah.

Presiden Joko Widodo menyebut Halal Park adalah embrio yang akan menjadi cikal bakal untuk mengangkat industri halal RI ke tingkat dunia. Halal Park yang terletak di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta diresmikan Jokowi pada Selasa (16/4/2019).

“Kita jadikan industri halal sebagai motor pertumbuhan ekonomi, ladang kreativitas, dan produktivitas generasi-generasi muda kita, agar bisa menjadikannya sebagai sumber kesejahteraan umat,” katanya.

Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center (Inhalec), Sapta Nirwandar mengatakan Halal Park adalah awalan yang baik dan harus diapresiasi. Setiap tujuan harus dimulai dengan aksi nyata dan produk yang konkrit. Ia juga memuji penggerak utamanya berasal dari kaum milenial.

“Ini adalah awalan karena memang harus kita mulai, saya suka yang menjadi kolaboratornya adalah milenial, Diajeng Lestari ini,” ungkapnya.

Sapta menyampaikan Indonesia memang perlu langkah konkrit untuk memaksimalkan potensi industri halal. Dalam laporan yang dikeluarkan oleh Inhalec bekerja sama dengan DinarStandard, industri halal Indonesia bisa menyumbang 3,8 miliar dolar AS, (Rp 53,2 Triliun) per tahunnya.

(Baca: Resmikan Halal Park, Jokowi Targetkan 5 Juta Kunjungan Wisata Halal)

Ini setara dengan 0,4 persen GDP Indonesia dan berpotensi menurunkan nilai impor. Industri halal juga berpotensi menarik satu miliar dolar AS investasi asing secara langsung, dan dapat membuka 127 ribu lapangan kerja baru per tahun.

Indonesia telah menjadi pengekspor produk ekonomi halal terbesar diantara negara-negara Muslim dengan nilai 7,6 miliar dolar AS. Dari pengembangan industri halal, diharapkan ada tambahan lagi sekitar 5,1 miliar dolar AS.

Sapta menyampaikan Halal Park berpotensi aktif dalam pengembangan industri halal dalam 2-3 tahun kedepan. Lokasinya cukup strategis dan berpotensi menjadi destinasi wisata baru baik untuk penduduk domestik mau pun mancanegara.

Inisiator Halal Park, Diajeng Lestari menyampaikan distrik ini merupakan yang pertama. Akan ada Halal Park lain yang dibangun di beberapa lokasi. Sebagai tahap awal, Halal Park juga akan dibangun di Jawa Barat. Lokasi dan konsepnya masih dalam pembahasan.

“Nantinya akan ada lebih dari 200 usaha sektor halal di Halal Park, tentu kita kuratori yang harapannya bisa menjadi contoh bagi industri,” kata Diajeng. (ikbal/b)