Tuesday, 16 July 2019

PBB: Kasus Campak di Seluruh Dunia Naik Tiga Kali Lipat Tahun 2019

Selasa, 16 April 2019 — 15:12 WIB
ilustrasi

ilustrasi

AMERIKA SERIKAT – Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah kasus campak tiga bulan pertama tahun 2019 di seluruh dunia dilaporkan meningkat tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Badan milik PBB itu mengatakan bahwa data sementara menunjukkan “tren yang jelas”, dengan seluruh wilayah di dunia mengalami wabah tersebut.

BBC melansir, Afrika mengalami peningkatan paling signifikan – hingga 700%. WHO mengungkapkan bahwa angka sebenarnya bisa jadi lebih besar, karena secara global, hanya satu dari 10 kasus yang dilaporkan.

Campak merupakan penyakit virus yang sangat menular yang terkadang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan yang serius, termasuk infeksi paru-paru dan otak.

Ukraina, Madagaskar dan India adalah negara yang terdampak paling buruk, dengan puluhan ribu kasus tercatat untuk setiap satu juta penduduknya.

Sejak September, setidaknya 800 orang meninggal dunia akibat campak di Madagaskar.

Wabah campak juga menyerbu Brazil, Pakistan dan Yaman, “menyebabkan banyak kematian – sebagian besar anak-anak”.

Lonjakan jumlah kasus juga tercatat di sejumlah negara lainnya termasuk Amerika Serikat dan Thailand yang notabene memiliki cakupan vaksinasi yang tinggi.

PBB mengatakan bahwa penyakit tersebut “sangat bisa dicegah” dengan vaksinasi yang tepat, namun cakupan global dari tahap imunisasi pertama justru “terhenti” di angka 85%, “masih kurang dari 95% yang diperlukan untuk mencegah wabah”.

Dalam sebuah tulisan opini untuk CNN, pemimpin WHO Henrietta Fore dan Tedros Adhanom Ghebreyesus menyatakan bahwa dunia tengah “berada di tengah krisis campak” dan bahwa “persebaran informasi yang membingungkan dan kontradiktif” tentang vaksin menjadi sebagian hal yang patut dipersalahkan.

Campak adalah salah satu virus paling menular yang ada, meski demikian, tak ada yang berubah dari campak. Ia tidak bermutasi menjadi virus yang lebih menular atau berbahaya. Jawabannya justru ada pada manusia itu sendiri.

Ada dua cerita di sini – yang satu tentang kemiskinan, yang satu tentang misinformasi. Di negara-negara miskin, lebih sedikit orang menjalani vaksinasi, sehingga sebagian besar populasinya rentan terhadap virus itu.

Hal ini menciptakan situasi bagi wabah terjadi – misalnya seperti mereka yang hidup di Republik Demokratik Kongo, Kyrgyztan, dan Madagaskar.

Akan tetapi negara-negara yang lebih sejahtera dengan tingkat vaksinasi yang tinggi juga mengalami peningkatan kasus campak. Hal ini karena sekelompok orang lebih memilih untuk tidak memvaksinasi anak-anak mereka karena terpengaruh persebaran pesan anti-vaksin yang tidak benar di media sosial.

Perlu dicatat bahwa angka jumlah kasus campak tersebut hanya sementara, menurut WHO, bisa saja angka sebenarnya jauh lebih tinggi. Campak sendiri sangat merugikan. Bahkan, penyakit itu membunuh sekitar 100 ribu orang, kebanyakan anak-anak, setiap tahunnya.

Kedua pimpinan WHO itu menyatakan bahwa hal tersebut “bisa dimengerti, di tengah situasi seperti sekarang ini, bagaimana orang tua yang khawatir akan kesehatan anak-anaknya bisa merasa tersesat” akan tetapi “pada akhirnya, tidak ada yang perlu diperdebatkan jika menyangkut manfaat yang besar dari vaksin”.

Mereka menambahkan: “Lebih dari 20 juta jiwa diselamatkan lewat vaksin campak sejak tahun 2000.”

Sebagai respons terhadap wabah campak, sejumlah negara membuat peraturan untuk mewajibkan imunisasi.

Bulan lalu, Italia melarang anak-anak di bawah usia enam tahun bersekolah kecuali mereka telah divaksin cacar air, campak dan penyakit lainnya.

Situasi darurat kesehatan masyarakat juga diberlakukan di kawasan New York, meminta seluruh penduduk untuk menjalani vaksinasi atau dikenai sanksi.(*tri)