Monday, 27 May 2019

Lanjutan Debat Bang Jalil

Kamis, 18 April 2019 — 4:40 WIB
SENTILAN-PAK-SUS

“SUDAH-SUDAH jangan pada ribut. Ayo, semuanya bangkit, ini Negara milik kita bersama. Nggak ada artinya pada saling menyalahkan, apalagi pakai nyari kabing hitam. Kasihan tuh kambing! Kan sudah sepakat, siap kalah siap menang? Mau apalagi?” sahabat Bang Jalil nemberi nasihat.

Bang Jalil manggut-manggut, iya juga ya mau apa lagi? Walaupun masih ada perasaan nggak puas di dalam hati, tapi harus diterima dengan lapang dada. Itu baru yang disebut jentelmen. Tapi, itu sang istri yang nggak mau tahu, sejak pagi tadi, di ruang dapur ramai banget. Kayaknya semua perabot dapur menjadi sasaran kekecewaannya.

“Ini lasti ada yang main curang!?” Kata sang istri dibarengi, bunyi prang! Kayaknya tutup panik beradu sama piring.

“Ngga boleh ngomong begitu, kalau nggak ada bukti. Semua ada aturannya, jadi jangan asal ngomong! Kita Negara hukum, jadi semua harus diselesaikan dengan hukum. Lebih bagus lagi kalau secara musyawarah!?” Kata Bang Jalil, mengingatkan sang istri.

“Pokoknya ibu nggak mau masak!”

“ Wah, nggak boleh begitu dong Bu?”

“Masa soal pemilu kok malah nggak masak? Emang hubungannya apa?”

“Memang bapak nggak tahu? Tuh sembako malah ikutan naik, cabe merah naik. Bapak harus ikut tanggung jawab!”

Hemmm, Bang Jalil nyengir. Kenapa urusan jadi panjang. Debat seharusnya sudah selesai, “Kok malah jadi berlanjut Bu?”

“Bapak harus ganti rugi,tuh banyak perabot yang hancur!”

“ Lha, itu kan Ibu yang mecahin kok Bapak yang ganti?”

“ Itu risiko jadi pemimpin, tahu! “ ujar sang istri sewot. –massoes