Tuesday, 21 May 2019

Menang Tanpa Ngasorake

Kamis, 18 April 2019 — 6:25 WIB

Oleh Harmoko

ADA filosofi Jawa yang patut kita ingat kembali yakni Sugih tanpa Bandha, Digdaya tanpa Aji, Nglurug tanpa Bala, Menang tanpa Ngasorake. Secara etimologi bermakna : Kaya tanpa Harta, memiliki Kesaktian tanpa Ilmu/benda pusaka, Menyerang tanpa bala Pasukan, Menang tanpa Merendahkan.

Ajaran adiluhung ini cocok dijadikan pedoman bagi kehidupan kita, terutama filisofi ” Menang tanpa ngasorake”, lebih – lebih dengan digelarnya puncak pesta demokrasi, pileg dan pilpres.
Pemilihan presiden/ wapres dan pemilu legislatif telah digelar serentak Rabu kemarin, 17 April 2019.

Rakyat telah menggunakan hak pilihnya untuk menentukan nasib negerinya ke depan. Rakyat telah memilih calon pemimpin ( pasangan calon presiden dan wapres), yang menurutnya, mampu memajukan bangsa dan negara.

Rakyat telah memilih wakil rakyat yang mampu memperjuangkan aspirasi.

Apa pun hasilnya itulah pilihan rakyat. Siapa pun yang menang itulah kemenangan rakyat. Sebab, kemenangan tertinggi dalam pesta demokrasi sejatinya berada di tangan rakyat sebagai pemegang kedaulatan.

Maknanya kemenangan yang diperoleh bukan semata karena kehebatan dirinya, kelompoknya, tetapi kemenangan semua.

Itulah sebabnya, filosofi: menang tanpa ngasorake sangatlah cocok sebagai pegangan hidup, sebagai perilaku dalam tata krama kehidupan berpolitik.

Secara harafiah, menang tanpa ngasorake adalah menang tanpa merendahkan yang kalah (orang lain). Jangan mentang – mentang karena merasa menang lantas ” adigang, adigung, adiguno” (Sikap yang sangat sombong).

Ini mengajarkan kepada kita bahwa yang menang harus memberi “hormat” kepada yang kalah. Wajib merangkul lawan politiknya menjadi sahabat demi membangun bangsa ke depan.
Perlu disadari, orang yang merasa direndahkan, ada kecenderungan pada saatnya akan mencari kesempatan untuk bisa membalas kekalahannya.

Hal ini tentu tidak membuat tenteram. Memperbanyak kawan lebih mulia, ketimbang membiarkan satu musuh yang bisa tumbuh menjadi seribu.

Lagi pula, kemenangan dengan merendahkan lawan tidak akan membawa kemuliaan. Tidak akan ada orang yang hormat, jika dengan kemenangan itu kemudian membuatnya berperilaku sombong, mentang – mentang, apalagi menjurus sewenang – wenang.

Kita berharap dalam pesta demokrasi tidak perlu mengembangkan istilah menang dan kalah. Yang ada terpilih dan belum terpilih.

Kita meyakini siapa pun yang terpilih, akan menghargai yang belum terpilih. Akan menghormati yang belum terpilih. Bahkan, sudah sewajarnya mengucapakan terima kasih kepada yang belum terpilih. Dia menjadi terpilih karena ada yang tidak terpilih.

Sebaliknya yang belum terpilih ada baiknya memberi ucapan selamat kepada rekannya yang terpilih. Ini bentuk penghargaan kepada rakyat yang telah menggunakan haknya untuk memilih calonnya.

Jika masing – masing telah mengamalkan filosofi yang sangat mendasar ini, akan membuat hidup kita menjadi kehidupan yang lebih indah, tanpa merendahkan orang lain, kehidupan yang diisi dengan sikap-sikap kesatria, kehidupan yang jauh dari keserakahan dan saling bermusuhan.
Semuanya bisa diselesaikan dengan musyawarah mufakat, melalui pola ‘ win win solution ‘, yang memiliki arti semua pihak yang berselisih paham memiliki hasil yang menguntungkan untuk semuanya.

Hidup ini sangat singkat. Akan sangat rugi bila harus memendam rasa tak suka, apalagi sampai menanam bibit permusuhan akibat mau menang sendiri atau menang- menangan.

Pesta telah usai, mari kita awali dengan kebaikan. Mari kita bangun negeri ini siapa pun presidennya. Sing nandhur, bakale ngunduh. ( Siapa yang menanam, pasti akan menuai ). (*).