Monday, 27 May 2019

PDIP: Parpol Pendukung Prabowo Tolak Quick Count Soal Pilpres, Terima Soal Partai

Jumat, 19 April 2019 — 22:10 WIB
Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. (ikbal)

Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. (ikbal)

JAKARTA  – PDI Perjuangan menampilkan perhitungan internal partai kepada publik sebagai bentuk transparansi penghitungan suara pemilu. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengaku siap sistemnya diaudit. Sampai menantang kubu Prabowo menunjukkan data yang mereka miliki.

“Ini siap diaduit bahkan KPU kalau mau membandingkan antara data kami dengan Gerindra, BPN, kami juga siap untuk dicek sistemnya,” kata Hasto saat konferensi pers di kantor DPP PDIP, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2019).

Menurut Hasto,  ada ironi dari sikap partai politik pendukung Prabowo-Sandi terkait hitung cepat Pemilu 2019. Partai-partai mendukung Prabowo-Sandi menerima hasil hitung cepat terkait partai. Namun, soal hasil Pilpres koalisi menolak yang memenangkan Jokowi-Ma’ruf.

“Kita melihat situasi sekarang partai politik pendukung Prabowo-Sandi pun mengakui quick count untuk partai politiknya. Sehingga sangat ironi ketika parpol quick count diterima kemudian untuk quick count pilpres tidak diterima,” katanya.

Dia lantas  menyinggung saat Pilkada DKI Jakarta 2017. Prabowo yang mengusung Anies-Sandi, menerima hasil hitung cepat ketika itu.

Berbeda dengan sikapnya sekarang. Prabowo, kata Hasto, tidak cuma menolak hitung cepat. Melainkan, sampai tiga kali deklarasi kemenangan dengan angka yang berbeda.

“Pak Prabowo di DKI yang memenangkan pak Anies-Sandi juga menggunakan hitung cepat sebagai instrumen hitung cepat yang bisa dipertanggungjawabkan keakuratannya dari aspek metodelogi,” kata Hasto.

Meski demikian, Hasto tidak ingin sesumbar pihaknya telah menang Pilpres ini. Dalam hitung cepat telah menang dengan angka 54 persen. Seperti yang telah diminta Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

“Ibu Megawati mengingatkan kami kita semua sebaiknya menunggu proses rekapitulasi secara berjenjang oleh KPU,” tandasnya.

Kepala Badan Saksi Pemilu Nasional PDI Perjuangan, Arif Wibowo menyebut data yang diambil ini secara acak. Bukan hanya basis suara partai berlambang banteng moncong putih itu. “Ini adalah secara acak semua yang TPS C1 nya masuk silakan diinput. Nanti akan kelihatan bergerak,” katanya.

Wakil Ketua Komisi II DPR itu menyatakan,  data ini sengaja ditampilkan sebagai pengetahuan kepada masyarakat. “Kita ini memberitahukan ini untuk mengajak masyarakat berpikir cerdas. Lha supaya berpikir cerdas inginkan data bergerak. Dan itu hasilnya adalah dari mereka input di setiap cabang kantor kita langsung masuk ke pusat,” tandasnya. (*/win)