Friday, 24 May 2019

Bukan Kiageng Mangir Tewas Ditombak Mertua

Rabu, 24 April 2019 — 8:30 WIB
24-DIA-APRIL-19

NASIB Dhani, 32, warga Kalteng ini sungguh mirip Kiageng Mangir dari Mataram. Dia tewas dibunuh mertuanya, Muhirot, 53. Tapi bukan karena memberontak pada negara, melainkan akibat mengancam istri. Sang mertua yang kalap langsung mengajak sejumlah orang, dan Heru pun tewas dijojoh tumbak.

Dalam sejarah Metaram dikisahkan, Kiageng Wonoboyo dari Kadipaten Mangir memberontak pada raja Mataram, Panembahan Senopati. Untuk menaklukannya, Adipati Mangir itu dipancing dengan kecantikan putrinya, Retna Pambayun. Tak tahu bahwa gadis itu putri raja Mataram, dikawinilah. Setelah hamil, baru Pambayun buka kartu. Nah, saat Kiageng Wonoboyo sungkem Panembahan Senopati sebagai tanda bakti menantu, kepala langsung dijedotin ke kursi dampar hingga tewas!

Dhani warga Gunung Mas, Kalteng, nasibnya sungguh mirip Kiageng Mangir dari Mataram tersebut. Bedanya, Kiageng Mangir masalah pembangkangan negara, sedangkan Dhani hanya perkara keributan di dalam keluarga. Kebetulan dia lelaki temperamental, sehingga pada istri berani pakai ngancam-ngancam segala.

Agaknya Dhani ini penderita penyakit ludira inggil (darah tinggi) yang malas minum Kaptopril. Mendengar kata-kata tak enak sedikit saja, emosinya langsung naik. Maka di era smartpone ini, sengaja dia tak pakai android dan main WA-nan. Ke mana-mana pakai HP jadul, yang hanya bisa untuk nelepon dan SMS.
Sebab jika sudah masuk medsos, Dhani pasti gatal tangan dan ikut komentar macem-macem. Takutnya bisa nyinggung cebong dan kampret. Repot kan, hanya sebaris dua baris di layar HP sudah bisa bikin orang masuk penjara. Dhani sangat sadar, tak mau bernasib seperti Ahmad Dhani, mondar-mandir jadi urusan polisi gara-gara medsos.

Beberapa hari lalu Dhani kembali ribut dengan istrinya. Entah apa masalahnya, tapi paling-paling soal ekonomi. Dan entah kenapa, kali ini Dhani sampai mengancam istrinya, “Tak bunuh kamu!” Kalau ancaman Kadir Srimulat, biar dia bilang “tak bunuh kamu” itu hanya sekedar melucu. Sebab dia tak bawa senjata. Tapi Dhani Kalteng, benar-benar memperlihatkan mandau.

Merasa jiwanya terancam, bini Dhani ini langsung telepon bapaknya, Muhirot, dengan nada kata ketakutan. Bapak cap apapun pasti panik dengar kata-kata seperti itu. Maja Muhirot jadi naik pitam. “Kurang ajar ini mantu, sudah ngeloni anak orang, kok masih pakai ngancam-ngancam segala. Tahu rasa kamu,” kata Muhirot.

Ternyata ini bukan sekedar kata-kata tanpa makna. Tapi benar-benar hendak dilaksanakan. Dengan membawa tombak mirip Kyai Plered dari Mataram, Muhirot mengajak tiga tetangganya untuk memberi pelajaran pada Dhani. Sebagai bukti solidaritas antar-warga, mereka pun ikut saja bak kerbau dicocok hidung.

Nah, Dhani melihat mertua datang sambil memegang tombak, langsung kabur ambil langkah sejuta. Tapi karena dikejar tiga orang, dengan cepat segera tertangkap. Dalam posisi dipegangi, dia langsung dijojoh tombak oleh Muhirot. Begitu ambruk, tiga orang tetangganya ikut pula menghajarnya pakai kayu. Ya langsung wasalamlah Dhani. Sementara “Kiageng Mangir” van Kalteng itu dimakamkan, Muhirot dan kawan-kawannya ditangkap polisi.

Anak menjadi janda, cucu jadi anak yatim kan? Mikirrrr….. (*/Gunarso TS)