Sunday, 18 August 2019

Pemulung Ini Berhasil Kuliahkan Anak

Rabu, 24 April 2019 — 1:09 WIB
pemulung

NURUL Jannah, cuma perempuan pemulung. Lebih dari 16 tahun ia menjalani pekerjaan tersebut. Tepatnya sejak sang suami meninggal dunia.

Tetapi jangan tanya apa yang bisa diperoleh dari hasil memulung sampah. Pekerjaan yang nyaris dihindari oleh kebanyakan perempuan tersebut, kini membuahkan hasil gemilang.

Ya, Nurul yang hidup sebagai single parent bagi empat anaknya setelah sang suami meninggal dunia pada 2001, mampu menyekolahkan anak-anaknya dengan prestasi gemilang hingga perguruan tinggi dari hasil memulung sampah. Sesuatu yang hampir mustahil tetapi nyata terjadi dalam kehidupan seorang Nurul.

Dijumpai di Bank Sampah Depo Mentas di kawasan Menteng Atas, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Nurul mengaku awalnya adalah seorang ibu rumah tangga yang mengandalkan hidup dari gaji suami yang berprofesi sebagai Satpam.

Sayang, saat anak-anaknya masih kecil, suami meninggal dunia karena sakit. Ia terpaksa mengambil alih kemudi rumah tangga. Menjadi seorang ibu sekaligus ayah bagi empat anaknya.

Dengan ijazah SMA, tidak mudah baginya untuk mendapatkan pekerjaan. Apalagi pekerjaan itu harus memiliki jam kerja yang fleksibel, menyesuaikan dengan pekerjaan seorang ibu.

Satu-satunya pekerjaan yang ada di depan mata adalah menjadi pemulung. Tanpa ragu Nurul pun memulai profesi tersebut.

“Yang penting halal dan saya tetap bisa memiliki waktu untuk memperhatikan anak-anak, mengurus mereka sebisa mungkin,” kata Nurul mengawali kisahnya.

Nurul, pemulung sampah yang berhasil mengubah sampah menjadi emas dan mengantar anak-anaknya mengenyam pendidikan tinggi.

PERJUANGAN BERAT

Awal menjadi pemulung, Nurul mengaku harus berjalan, berkeliling hingga puluhan kilometer setiap hari. Mulai dari kawasan Menteng Atas, Menteng Pulo, Manggarai, Tebet hingga Setia Budi. Karung besar bertengger dipundaknya.

Ia mengais dari tong sampah satu ke tong sampah berikutnya. Mengumpulkan berbagai barang bekas yang masih bisa dimanfaatkan terutama plastik, kardus dan kertas untuk kemudian dijual ke pengepul. Dan itu dijalani hingga belasan tahun kemudian.

Jangan tanya bagaimana beratnya perjuangan seorang Nurul. Perempuan dengan segala keterbatasan fisik yang dipaksa oleh keadaan untuk terus berjuang menghidupi anak-anaknya.

Tidak hanya lelah menggelayut di kedua kakinya, tetapi juga rasa pegal di sekujur tubuhnya. Semua diabaikan. Dalam benaknya ia harus bertahan hidup, bekerja keras dan mengantar anak-anaknya menjadi orang-orang yang sukses.

Hasilnya? Empat anak-anaknya kini bisa menyenyam pendidikan yang lebih baik dari dirinya. Si sulung bernama Kurniasandi kini duduk di bangku kuliah Universitas Brawijaya Malang jurusan Hubungan Internasional Semester V. Anak keduanya bernama Andika duduk di bangku kuliah Universitas Madura jurusan Sospol Semester III. Anak ketiganya bernama Dimas Ray kini duduk di bangku SMA Negeri 70, Jakarta Selatan kelas XII.

“Dan anak saya paling paling bontot bernama Fariski kini duduk di bangku SMP Negeri 67 Jakarta. Alhamdulillah, saya masih mampu membiayai mereka tanpa beasiswa,” kata Nurul sembari matanya berkaca-kaca, menahan isak tangis. (faisal/st)