Friday, 23 August 2019

Nasi Padang Salahnya Apa Kok Dikait-kaitkan Pilpres?

Kamis, 25 April 2019 — 6:40 WIB
SENTILAN-NASI-PADANG-PAKET-HEMAT

RM PADANG terkenal akan kelezatannya. Di kota manapun pasti ada RM Padang, meski pengelolanya belum tentu orang Minang. Tapi gara-gara suara Capres Jokowi jeblok di Sumbar, netizen pro Capres No. 01 melempar wacana di medsos, agar dilakukan boikot pada nasi Padang. Pertanyaannya kemudian, nasi Padang salah apa, kok sampai dikait-kaitkan ke Pilpres segala?

Menu nasi Padang bisa disebut menu universal, karena suku manapun bisa menikmati sekaligus menyukai. Ongkosnya juga kompromistis, bisa menyesuaikan dengan kondisi kantong. Bila kepepet dengan uang Rp 10.000,- pun bisa masuk ke RM Sederhana atau Simpang Raya. Biarpun begitu banyak menu dihidangkan, ambil saja nasi putih dan kuahnya, ditambah minum teh tawar. Pasti dengan uang Rp 10.000,- masih aman.

Tapi RM Padang begitu terkenal di luar Sumbar, di kota Padang sendiri tak ada RM Padang. Meski menu seperti di Jakarta juga ada, tapi pada papan namanya cukup merk saja, bukan pakai “RM Padang” sebagaimana di kota-kota lain.

Alkisah, dalam Pilpres 2019 ini lagi-lagi perolehan suara Capres Jokowi jeblok di Sumbar. Berdasarkan hasil hitung cepat Indo Barometer, Jokowi-Ma’ruf kalah telak oleh Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Jokowi-Ma’ruf hanya mendapat 9,55 persen, sementara Prabowo-Sandiaga 90,45 persen.

Nah, pendukung Jokowi yang kecewa kemudian memposting seruan agar memboikot nasi Padang, sebagai balasan atas tidak berterimakasihnya “urang awak” pada pemerintahan Jokowi. Tentu saja tim TKN segera menepis ajakan tersebut. Pilpres tidak boleh disangkut-pautkan dengan nasi Padang segala.

Andaikan nasi Padang bisa ngomong, pasti akan nyeletuk, “Apo salah ambo?” Bagaimana mungkin nasi Padang diboikot segala, Jokowi bukan tipe pendendam. Tak ada kamus untuk memusuhi nasi Padang, wong dia sendiri juga gemar menu tersebut. Bahkan beberapa hari lalu bersama Timsesnya juga makan di RM Padang di Grand Indonesia.

Bila diladeni ajakan di medsos, itu sudah bernuansa SARA, bisa mengancam NKRI. Sejak Patih Gajahmada dari Majapahit, keutuhan nusantara diperjuangkannya lewat sumpah Palapa. Kok ini gara-gara Pilpres mau dibikin sumpah medsos diet nasi Padang. Yang mboten-mboten saja. – gunarso ts