Tuesday, 21 May 2019

Wani Ngalah Luhur Wekasane

Kamis, 25 April 2019 — 7:05 WIB

Oleh Harmoko

LAYAKNYA dalam sebuah kompetisi, kita dipacu untuk menang. Tetapi dalam sisi lain kehidupan, dalam sebuah lingkungan masyarakat, kelompok, komunitas atau apa pun namanya, ada kalanya kita dituntut untuk berani, bahkan ikhlas “mengalah” demi lingkungan itu sendiri.

Kata “mengalah” memang beda dengan ” kalah”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia(KBBI), kalah berarti tidak menang atau dalam keadaan tidak menang; diungguli lawan.
Sedangkan “mengalah” artinya mengaku kalah; dengan sengaja kalah (menyerah); tidak mempertahankan pendapat (tuntutan dan sebagainya).

Ini dapat dikatakan bahwa “kalah” adalah karena ketiadaan atau kurang kemampuan untuk mengungguli lawan.

Sementara “mengalah” bukan karena tidak mampu untuk menang, boleh jadi malah sudah menang, tetapi ada niat untuk tidak menjadi pemenang.

Tentu ada maksud mengapa harus mengalah? Jawabnya dapat kita saksikan dalam kehidupan sehari- hari. Kita sering mengalah dengan memberi jalan kepada orang lain agar lebih dulu mencapai tujuan. Ketika terdengar sirine mobil pemadam kebakaran dan ambulans, dengan spontan kita mengalah memberi jalan agar mobil pemadam cepat sampai tujuan memadamkan kebakaran. Ambulans cepat sampai untuk menyelamatkan orang sakit.

Begitu pun dalam angkutan umum, sering mengalah memberikan kursi yang kita duduki kepada penumpang yang datang belakangan, karena pertimbangan dia lebih membutuhkan.

Ini mengalah karena adanya tuntutan umum. Ada kepentingan umum yang harus didahulukan. Mengesampingkan ego pribadi demi kebahagiaan orang lain. Sementara agama apa pun mengajarkan membahagiakan orang lain merupakan kebahagian bagi diri kita juga.

Kita sering mendengar dalam percakapan sehari – hari “sing ngalah berkah” ( yang mengalah akan mendapatkan berkah).

Dalam falsafah Jawa juga dikenal istilah “Wani ngalah luhur wekasane “. Kata ini merupakan petikan lirik tembang “Mijil” yang diciptakan Sunan Kudus (Jafar Shodiq).

Sejumlah referensi menyebutkan tembang ini dipakai Sunan Kudus sebagai salah satu metode dalam berdakwah.

Sumber lain menyebutkan tembang ini juga dipakai Gunung Jati dalam berdakwah.
Wani ngalah – berani ngalah, luhur wekasane -mulai akhirnya, dapat dimaknai mengalah bukan berarti kalah.

Dalam konteks ini, mengalah adalah sebuah kemenangan karena mampu menyingkirkan ego pribadi, menunda kepentingan diri sendiri demi mendahulukan kepentingan orang lain. Berani menunda kebahagian diri sendiri demi mendahulukan kebahagiaan orang lain.

Ini mengajarkan kepada kita perlunya pengendalin diri, mengelola ego pribadi, bersabar menghadapi cobaan, rasa syukur karena masih ada kemampuan membahagiakan orang lain. Masih diberi kesempatan untuk membantu orang yang lebih membutuhkan. Ini sejatinya sebuah kemenangan besar.

Ujung dari perbuatan tersebut adalah diperolehnya kebahagian sejati bagi diri pribadi.
Itulah filosofi yang hendak disampaikan ” Wani ngalah luhur (dhuwur) wekasane” dari tembang Mijil yang syair lengkapnya sbb:

Dedalane guno lawan sekti,
Kudu andhap asor,
Wani ngalah dhuwur wekasane,
Tumungkula yen dipun dukani,
Bapang den simpangi,
Ono catur mungkur

Syair lagu yang penuh petuah luhur mengajarkan kepada kita tentang etika, tata krama, adab, kesopanan, dan keramah-tamahan. Mengajak kita bersikap rendah hati, saling berbagi dan menghormati. Sabar dan ikhlas menerima cobaan serta senantiasa siap untuk bersyukur. (*).