Sunday, 18 August 2019

Kunjungi Masjid Al Noor

Pangeran William: Selandia Baru Berhasil Menunjukkan Cara Merespon Kebencian

Jumat, 26 April 2019 — 11:43 WIB
Pangeran William saat berpidato dalam rangkaian kunjungannya ke Masjid Al Noor, lokasi penembakan massal yang menewaskan 51 orang. (reuters)

Pangeran William saat berpidato dalam rangkaian kunjungannya ke Masjid Al Noor, lokasi penembakan massal yang menewaskan 51 orang. (reuters)

SELANDIA BARU – Pangeran William mendesak dunia untuk bersatud an melawan segala bentuk gerakan ekstremisme yang dapat  menyebabkan serangan teror mematikan seperti tragedi berdarah di dua masjid di Christchurch, Selandia baru, pertengahan Maret lalu.

Dilansir Sky News, Jumat (26/4/2019), Duke of Cambridge, yang menyambangi Selandia Baru untuk mewakili Ratu, menemui para korban penembakan massal masjid Cristchurch, salah satunya seorang gadis berusia lima tahun yang masih dalam pemulihan di rumah sakit.

Seperti diketahui, lima puluh jamaah dibunuh oleh seorang pria bersenjata jelang salat Jumat pada tanggal 15 Maret 2019. Pangeran William memuji reaksi “luar biasa” masyarakat New Zealand terhadap tragedi itu.

Britain's Prince William greets Farid Ahmed during his visit to Masjid Al Noor mosque in Christchurch, New Zealand April 26, 2019. Mark Tantrum/The New Zealand Government/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY. NO RESALES. NO ARCHIVE

Pangeran William menyalami salah satu korban selamat penembakan massal yang terjadi 15 Maret 2019. (reuters)

Berbicara di dalam masjid Al Noor, William mengatakan: “Tindakan kekerasan dirancang untuk mengubah Selandia Baru. Tetapi sebaliknya, tragedi ini justru mengungkapkan seberapa empati, kasih sayang, kehangatan dan cinta Anda. Anda berhasil menunjukkan seperti apa Selandia Baru sebenarnya.”

Suami dari Kate Middleton ini juga memuji pemimpin negara tersebut, Jacinda Ardern. “Perdana menteri Anda menunjukkan kepemimpinan yang luar biasa dari belas kasih dan tekad, serta memberikan contoh kepada kita semua. Di peta, Selandia Baru mungkin terlihat seperti tanah yang terisolasi. Tetapi, dalam minggu-minggu setelah 15 Maret, kompas moral dunia berpusat di sini di Christchurch.  Anda menunjukkan kepada kami, bagaimana cara merespons kebencian: dengan cinta.” (mb)