Friday, 20 September 2019

Pelajaran Mahal Pemilu Serentak

Jumat, 26 April 2019 — 8:14 WIB

RAKYAT Indonesia baru saja mengikuti proses Pileg dan Pilpres 2019 yang berlangsung serentak, secara umum berjalan aman meski ada riak-riak dan letupan-letupan kecil di sana sini. Proses panjang penghitungan suara masih berlangsung baik di KPUD maupun KPU Pusat, hingga finalnya nanti 22 Mei 2019.

Sepanjang sejarah berlangsungnya pesta demokrasi di Indonesia, baru kali ini dilakukan pemilu serentak. Memilih presiden/wapres, sekaligus memilih wakil rakyat yang akan duduk di DPR RI, DPD, DRPD, serta DPRD Kabupaten/Kota. Pemilu kali mungkin menjadi pesta demokrasi terheboh, sekaligus paling memprihatinkan dan menyisakan duka.

Penyelenggaraan pemilu kali ini sungguh sangat menguras tenaga serta pikiran petugas di lapangan baik anggota KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara), Panwaslu (Panitia Pengawas Pemilu), serta aparat kepolisian yang mengawal jalannya pemilu.

Tercatat, 193 petugas pemilu gugur dalam tugas akibat kelelahan, dan ratusan panitia penyelenggara jatuh sakit. Lelah mengawal proses pemungutan suara hingga melakukan rekapitulasi. Mereka lunglai tertidur di samping tumpukan kertas suara.

Para pendekar pemilu yang gugur terdiri dari  144 anggota KPPS, 33 orang Panwaslu, serta 16 anggota kepolisian. Polri bahkan kehilangan satu pejabat, Brigjen Pol Sjaiful Bachri, Direktur Binpotmas Korbinmas Baharkam Polri, yang gugur daalam tugas saat memimpin pengawalan sekaligus memantau kesiapan pemilu di Labuan Bajo, NTT.

Terlepas hari hasil akhir pemilu nanti, penyelenggaraan pesta demokrasi kali ini menjadi pelajaran mahal. Begitu mahal hingga hampir 200 petugas yang terlibat di dalamnya harus berkorban nyawa demi kelancaran proses demokrasi di negeri ini. Mereka layak disebut pahlawan pemilu.

Pesta demokrasi kali ini menorehkan sederat catatan penting. Pertama, penyelenggaraan pemilu serentak harus dievaluasi, bahkan tak layak diselenggerakan lagi, karena begitu banyak menguras energi. Target menghemat anggaran dan lebih efisien, tidak bisa menjadi alasan bila petugas harus menjadi korban.

Catatan penting lainnya, pemilu harus menghasilkan keputusan yang jujur, adil dan bersih. Terlalu mahal pengorbanan para ‘pendekar pemilu’ yang telah kehilangan nyawa. Pengorbanan mereka terlalu murah bila hasil akhir pemilu justru jauh dari prinsip kejujuran dan keadilan. **