Tuesday, 21 May 2019

Pemimpin Membumi

Senin, 29 April 2019 — 4:41 WIB

Oleh Harmoko

SEORANG pemimpin kadang harus berada paling depan, suatu saat di tengah, lain waktu berada di belakang. Kadang, pemimpin harus juga berada di samping  (sisi kanan atau kiri) sejajar dengan anak buahnya – seiring sejalan untuk mencapai tujuan. Maknanya seorang pemimpin harus mampu menempatkan diri sesuai dengan situasi. Kapan berada di depan, di tengah, di belakang atau di samping.

Ini sejalan dengan ajaran luhur Ki Hajar Dewantara bahwa pemimpin harus memiliki sifat Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani : Di depan memberi contoh ( suri tauladan), di tengah memberi semangat (membangun), dan di belakang memberi daya kekuatan ( dukungan dan mengarahkan).

Ketiga sifat ini merupakan satu kesatuan yang harus diterapkan oleh seorang pemimpin di level manapun, baik di pemerintahan ( lembaga negara) maupun swasta.  Penerapannya akan lebih tergantung kepada kemampuan masing – masing pemimpin.

Gaya kepemimpinan Nelson Mandela boleh juga menjadi rujukan. Presiden Afsel, penerima nobel perdamaian dunia itu berfalsafah “Akan lebih baik memimpin dari belakang dan menempatkan seseorang di depan, terutama ketika engkau merayakan kemenangan, ketika hal baik terjadi. Ambilah bagian di depan ketika ada bahaya. Maka orang akan menghargai kepemimpinanmu.”
Ini dapat ditafsirkan bahwa ketika meraih sukses, keberhasilan, prestasi besar bagi negerinya, bukan lantas pemimpin yang tampil di panggung kehormatan mempertontonkan “ inilah kehebatan saya” . Tetapi tunjukan kepada publik bahwa prestasi itu dapat diraih bukan semata karena dirinya sebagai pemimpin, melainkan karena keberhasilan anak buahnya, para pembantunya.

Sebaliknya jika terjadi masalah besar, kekacauan atau pun ancaman bagi bangsa dan negara, dia tampil paling depan untuk mengatasinya. Bisa dikatakan , jika ada kesenangan dan kemakmuran, rakyatnya yang terlebih dahulu untuk menikmatinya, tetapi jika terdapat kesulitan, dirinya terlebih dahulu yang harus menerima kesulitan itu. Itulah filosofi kepemimpinan Nelson Mandela.

Negeri kita juga cukup kaya dengan falsafah kepemimpinan. Nenek moyang kita sudah terbiasa hidup dengan menerapkan ajaran adiluhung, termasuk bagaimana menjadi pemimpin yang sejati dan membumi. Pemimpin yang peduli nasib rakyat, merakyat dan dicintai rakyat.

Kalau pun pemimpin berada di atas ( karena secara struktur organisasi memang demikian), hendaknya untuk mengayomi. Bagaikan payung, jika terik ia melindungi dari sengatan sinar matahari.  Jika hujan, ia menahan guyuran air.

Payung itu harus difungsikan, dibuka dan dikembangkan agar bermanfaat bagi orang banyak. Jangan sampai payung cuma disimpan sebagai hiasan belaka.

Begitu juga seorang pemimpin jangan hanya bertahta di singgasana dengan kekuasaannya, kewenangannya dan kemewahan fasilitasnya tanpa peduli anak buahnya yang kepanasan, kedinginan, kesakitan, kekurangan makanan, dan derita lainnya yang menimpa.

Beberapa literatur menyebutkan ada sejumlah falsafah ( Jawa khususnya) bagaimana menjadi pemimpin yang dicintai rakyat.

Setidaknya dikenal falsafah kepemimpinan Astabratha, falsafah kepemimpinan Tribrata, falsafah kepemimpinan Gadjah Mada, falsafah kepemimpinan Sultan Agung yang diungkapkan lewat Serat Sastra Gendhing.

Dalam Serat Sastra Gendhing misalnya memuat tujuh pedoman. Tiga di antaranya adalah pertama : swadana maharjeng tursita – seorang pemimpin haruslah memiliki sosok intelektual, berilmu, jujur, dan pandai menjaga nama, mampu menjalin komunikasi atas dasar prinsip kemandirian. Kedua : bahni bahna amurbeng jurit – seorang pemimpin harus selalu berada di depan dengan memberikan keteladanan dalam membela keadilan dan kebenaran. Ketiga : rukti setya garba rukmi – seorang pemimpin harus memiliki tekad bulat menghimpun segala daya dan potensi guna mewujudkan kemakmuran dan ketinggian martabat bangsa.

Banyak falsafah yang bisa menjadi acuan, tetapi satu hal yang tak boleh dilupakan adalah pemimpin harus pandai menempatkan diri untuk menjaga harkat dan martabatnya. Rujukannya filosofi : ajining diri saka pucuke lathi, ajining raga saka busana – harga diri seseorang tergantung dari ucapannya dan kemampuan menempatkan diri sesuai dengan situasi dan kondisinya.

Ini mengajarkan kepada kita agar senantiasa menjaga lisan, ucapan. Seorang pemimpin perlu ekstra hati – hati dalam berbicara, memberi pernyataan dan komentar. Begitu juga dalam menggunakan kemampuannya, kekuasaannya, dan kewenangan yang melekat pada dirinya. (*).