Tuesday, 21 May 2019

Negara Kita Lebih Hebat Dari Amerika

Sabtu, 4 Mei 2019 — 5:02 WIB
dul-5

Oleh S Saiful Rahim

“MARILAH kita bersujud syukur bersama di warung Mas Wargo ini,” kata Dul Karung ketika melangkahi ambang pintu warung kopi Mas Wargo. Sebelumnya, ketika di depan pintu, dia memberi ucapan salam dengan kata “Assalamu alaykum” yang fasih.

Berbeda dengan kebiasaannya, kali ini Dul Karung tak langsung mencomot dan mencaplok singkong goreng yang masih kebul-kebul. Tapi dia duduk takzim di salah satu bagian yang kosong dari bangku panjang semata wayang yang ada di warung tersebut.

“Apa yang mau kita syukuri? Kan pengumuman siapa yang jadi   pemenang Pemilu belum diumumkan?” tanya orang yang duduk di kanan Dul Karung, yang sebelumnya sudah bergeser memberikan tempat untuk Dul Karung duduk.

“Kalau bersujud syukur karena warung ini masih juga memberi izin orang berutang, cukup kau sajalah yang bersujud syukur,” jawab  entah siapa dan duduk di sebelah mana. Yang jelas ajakan tersebut mendapat respons dari hampir semua hadirin dengan tawa yang riuh dan panjang.

“Kalian tidak sadar ya? Negara kita ini ternyata adalah negara yang hebatnya luar biasa,” kata Dul dengan lantang.

“Kita semua, bahkan manusia sedunia, tahu bahwa kita ini belajar bernegara kepada negara-negara maju di dunia. Katakanlah belajar demokrasi! Seperti seluruh dunia, kita belajar berdemokrasi dari Amerika Serikat. Negara besar yang merasa dirinya paling hebat  dan usianya sudah lebih dari seabad. Dialah negara yang mengaku menciptakan atau menemukan sistem demokrasi. Tetapi sampai hari ini tidak, atau belum, punya “pahlawan demokrasi.”  Sebaliknya kita sudah punya sekaligus beberapa orang “Pahlawam Demokrasi” yang gugur dalam tugas melaksanakan Pemilu yang baru saja berlangsung beberapa hari yang telah lalu,” sambung Dul Karung membuat orang tertegun.

“Benar juga omongan Si Dul, ya?” kata seseorang entah siapa dan duduk di sebelah mana, tapi disambut oleh anggukan kepala dari seluruh hadirin. Termasuk Mas Wargo yang biasanya tidak suka ikut campur obrolan pelanggannya.

“Seharusnya orang seperti kamu itu menyiapkan diri untuk kelak jadi pahlawan,” kata orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang. Satu-satunya bangku untuk pelanggan warung Mas Wargo duduk.

“Wah sampai kelak katak sudah berekor pun, jangan harap Si Dul berprestasi. Kerjanya dari hari ke hari cuma makan, tidur, dan berutang. Iya kan, Dul?” tanggap orang yang duduk di depan pemilik warung, mengundang tawa hampir semua hadirin.

“Jangan suka meremehkan orang yang suka tidur, Bung! Suatu penelitian yang baru saja dilakukan Universitas Florida Selatan, USA, menyatakan bahwa orang dewasa yang tidurnya kurang 16 menit dari biasanya kinerjanya menurun. Jadi jangan meremehkan orang yang suka tidur.

Kalau saja penelitian seperti itu dilakukan di negeri kita ini, niscaya ditemukan fakta orang yang banyak tidur lebih optimistis dan bahagia daripada mereka yang kurang tidur,” bantah Dul Karung dengan sikap yakin dan mencoba meyakinkan pendengarnya.

“Dari mana kau tahu teori itu, Dul?” tanya orang yang duduk di kanan Dul Karung seraya menoleh dan menatap Dul Karung dengan pandangan meremehkan.

“Dari mengikuti insting dan duga-duga sajalah,” kata Dul Karung sambil pergi dengan langkah-langkah yang panjang.

“Hei tunggu dulu Dul. Kau jangan meniru sikap ……” Si Dul yang langkahnya panjang dan tergesa tidak dapat mendengar lagi dengan baik ucapan teman bicara yang satu itu, yang suka mencela. (***)

Komentar ditutup.