Saturday, 17 August 2019

Waspada Tawuran Mendompleng SOTR

Selasa, 7 Mei 2019 — 5:30 WIB

BENTROK antar-kelompok remaja belakangan ini marak terjadi. Malam pertama bulan Ramadhan, di kaawasan Senen, Jakarta Pusat seorang remaja kehilangan nyawa akibat dibacok kelompok lainnya. Dua hari sebelumnya, aparat kepolisian menggagalkan rencana tawuran kelompok remaja di Kemayoyan, Jakarta Pusat.

Belajar dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, tawuran kerap terjadi selama bulan Ramadhan. Ada dua bibit bentrokan yang sering muncul di malam bulan puasa. Pertama, anak-anak muda yang senang kongkow tanpa tujuan. Malam hari sambil menunggu sahur, biasanya anak-anak muda kerap mengisi waktu, kongkow dengan sesama kelompok, lalu timbul gesekan dengan kelompok lain atau janjian via medsos. Keributan kerap diawali dengan saling ejek, hal yang sebetulnya sangat sepele.

Kedua, mendompleng kegiatan SOTR (Sahur On The Road). Berdalih melakukan kegiatan SOTR, anak-anak muda konvoi di jalan lalu terjadi gesekan hingga pecah keributan. Membagi-bagi makanan bagi kaum tak berpunya pada malam Ramadhan, sejatinya merupakan kegiatan positif. Sayangnya kerap disalahgunakan oleh anak muda yang senang keributan, hingga mencoreng kelompok lain yang murni melakukan kegiatan positif.

Tahun-tahun sebelumnya, kegiatan SOTR kerap diwarnai keributan hingga dibubarkan polisi. Catatan TMC Polda Metro Jaya, pada 2018 tawuran terjadi di Jalan Soepomo, Jaksel, sekitar Universitas Sahid. Malam yang sama, keributan juga terjadi di Jalan Asia Afrika, Senayan, Jaksel. Keributan juga terjadi di depan FX, Jalan Sudirman, Jaksel.

Berkaca pada peristiwa yang terjadi tahun lalu, aparat kepolisian dituntut proaktif mencegah keributan dan tawuran yang mendompleng kegiatan SOTR. Tingkatkan patroli di titik-titik rawan di seluruh wilayah hukum Polda Metro Jaya guna mencegah bentrokan baik yang dipicu kelompok-kelompok yang kerap kongkow di pinggir jalan, maupun gerombolan anak muda berdalih membagikan makan sahur.

Bukan hanya kepolisian, aparat Pemprov DKI maupun hingga perangkat kelurahan, RT maupun RW, tokoh masyarakat serta orangtua dituntut berperan aktif mencegah keributan warga. Dorong warga mengisi waktu dengan kegiatan positif selama malam Ramadhan, ketimbang kumpul-kumpul yang berujung keributan.

Kegiatan sosial yang dilakukan massa atau organisasi masyarakat selama Ramadhan, sepanjang sifatnya positif sejatinya harus dikawal dan didukung. Akan tetapi bila berpotensi kisruh, terlebih didomplengi oleh kelompok yang senang ribut, lebih baik dikaji lagi. **