Thursday, 23 May 2019

Antisipasi Arus Mudik

Rabu, 8 Mei 2019 — 6:20 WIB

HAMPIR separo jumlah penduduk yang tinggal di Jabodetabek akan mudik Lebaran tahun ini. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlahnya hampir 15 juta orang. Ini angka untuk wilayah Jabodetabek. Jika diasumsikan arus mudik dari Jakarta juga sebesar 50 persen, dapat dikatakan hampir 5 juta warga yang tinggal di Jakarta akan mudik di saat Lebaran. Ini berpatokan kepada jumlah penduduk Jakarta yang sekitar 10,4 juta orang, berdasarkan data Badan Pusat Statistik ( BPS) tahun 2018.

Kita tahu saat Lebaran, Jakarta terlihat lengang tanpa kepadatan, apalagi kemacetan lalu lintas. Ini dapat dipahami karena warga Jabodetabek yang sehari – hari beraktivitas di Jakarta masih cuti atau mudik Lebaran di kampung halaman masing – masing.

Kita lantas merenung setelah ibukota negara dipindah ke Kalimantan misalnya, apakah kondisi Jakarta akan seperti suasana Lebaran atau liburan panjang? Jawabnya tentu saja tidak demikian. Jakarta akan tetap “sibuk” seperti hari – hari ini. Jakarta akan tetap menjadi pusat perekonomian, industri dan perdagangan dan pusat – pusat kegiatan lainnya. Hanya minus sebagai pusat pemerintahan, kecuali ada kebijakan lain dari pemerintah setelah ibukota negara pindah. Memang, terlalu dini untuk berargumentasi ke arah sana. Lagi pula pemindahan ibukota negara masih melalui proses yang cukup panjang.

Fokus perhatian hendaknya kita curahkan kepada hajat yang sudah di depan mata. Yang hendak kita sampaikan adalah mengantisipasi pergeseran penduduk yang begitu besar hampir 15 juta jiwa dalam waktu yang hampir bersamaan dengan rentang waktu yang begitu singkat.

Angka ini pun ada kemungkinan bisa bertambah karena diprediksi animo mudik tahun ini akan meningkat seiring dengan telah tersedianya sarana dan prasarana, seperti jalan tol.

Kita meyakni pemerintah sudah sangat berpengalaman karena setiap tahun mengelola arus mudik (balik) Lebaran, berikut penyiapan transportasi dan fasilitas pendukung lainnya.

Tol lintas Jawa sudah tersedia sehingga akan lebih memudahkan pemudik mencapai tujuan.

Mempercepat waktu tempuh. Meski begitu arus mudik yang bersamaan dalam jumlah besar, ditambah lagi masih adanya beberapa pembangunan inftrastruktur di jalur Jakarta – Cikampek dan beberapa daerah lain, perlu lebih diatisipasi. Lebih – lebih daerah persimpangan setelah gerbang exit, jalur keluar tol.

Kita tentu masih ingat kasus Brexit ( Brebes Timur Exit/ pintu keluar Brebes Timur ) pada Lebaran tahun 2016 yang menelan banyak korban jiwa.

Tentu saja situasi dulu dan sekarang yang berbeda akan menyebabkan beda problema juga.

Tetapi hendaknya perbedaan itulah yang perlu mendapatkan perhatian dari segenap institusi dan aparat yang terlibat langsung dalam pengamanan arus mudik Lebaran. Meski kecil, hambatan dan problema yang muncul harus ditangani segera, dengan cepat dan tepat. Semoga. (*).