Thursday, 23 May 2019

Gara-Gara Pakai Silikon Suami Dilarang Menyentuh

Rabu, 8 Mei 2019 — 6:45 WIB
sentuh

SUDAH punya istri, tapi tetap kedinginan, itulah Nasirun, 35, warga Surabaya. Soalnya istri sangat jual mahal. Sudah tiga tahun menikah, tapi Ratminah, 36, istrinya jarang mau disentuh. Apa lagi “indomilk”-nya benar-benar anti sentuh. Tersiksa punya istri model demikian, Nasirun memilih bercerai saja.

Dalam Qur’an disebutkan, istri kalian adalah pakaian kalian (Albakoroh 187). Oleh karenanya, suami boleh memakai “pakaian” itu kapan saja dan berapa saja. Kalau perlu sampai lecek dan nrantang macam saringan tahu. Tapi ternyata ada saja wanita yang tak memahami posisi dan kewajibannya. Biar ditakut-takuti akan dikutuk malaikat sampai pagi, istri tetap acuh, bahkan tidurnya tengkurep.

Nasirun warga Surabaya, mungkin jadi suami paling malang sekotamadya. Sudah tiga tahun jadi suami Ratminah, tapi jarang diberi pelayanan purna ranjang. Bila suami yang lain bisa dapat jatah dua kali seminggu sesendok makan, Nasirun hanya dijatah sekali setahun. Ini benar-benar penyiksaan. Gila nggak, “keris” suami disamakan dengan keris pusaka, yang diwarangi (dimandikan) setahun sekali. Padahal “keris” Nasirun ini lurus saja, tidak berkelok-kelok (luk).

Penyiksaan atas diri Nasirun belum cukup sampai di situ. Nasirun juga dilarang keras menyentuh payudara Ratminah. Ibarat nyetir mobil, Nasirun garus fokus pada kemudi dan lirak-lirik spion, sama sekali dilarang main klakson. Padahal sopir cap apapun, pasti cenderung main klakson, karena itu seni dan sensasinya seorang sopir…..rumahtangga.

Nasirun pernah mengklarifikasi, kenapa “aset”-nya tak boleh dijamah suami. Ratminah tak mau menjawab. Tapi dia memang pernah cerita, saat gadis dulu pernah pakai silikon, untuk membuat payudara menjadi kenceng dan padat, meski tanpa baut. Apakah karena itu lalu melarang suami menyentuhnya?

Lama-lama capek juga punya istri yang jual mahal pada suami sendiri. Dia pun lalu berterus terang, ingin menceraikan Ratminah. Ternyata sang istri tak keberatan, malah mendoakan agar Nasirun dapat pengganti istri yang siap memberi pelayanan 24 jam, termasuk Sabtu-Minggu dan hari besar nasional.

Wah, Nasiruan seperti nemu cepaka sawakul (merasa mujur). Gugatan cerai didaftarkan ke Pengadilan Agama Surabaya. Prosesnya lumayan cepat, karena masuk akal sehat, yakni: istri tak sanggup memberi palayanan nafkah batin. Begitu putusan cerai terbit, anak satu-satunya sebagai produk kerjasama nirlaba, diserahkan pada Ratminah, dan Nasirun berkewajiban memberi nafkah anak itu sampai dewasa.

Takutnya, dapat istri yang siap layanan 24 jam, lalu lupa anak. (*/Gunarso TS)