Monday, 19 August 2019

Atasi Distribusi Pangan!

Kamis, 9 Mei 2019 — 6:59 WIB

SETIAP Ramadan dan menjelang Lebaran harga-harga, terutama sembako meroket. Dalihnya, klasik lantaran permintaan akan barang tinggi, sedangkan stok dan pasokan terbatas.

Dalam ilmu ekonomi memang ada teori supply and demand. Penawaran dan permintaan adalah gambaran antara para calon pembeli dan penjual dari suatu barang. Model penawaran dan permintaan digunakan untuk menentukan harga di pasar.

Meningkatnya permintaan membuat belakangan ini harga-harga terutama bahan pangan naik. Telur misalnya. Di pasar-pasar tradisional di Jakarta merangkak naik, dari sebelumnya sekilo cuma Rp24 ribu kini menjadi Rp25 ribu sampai dengan Rp26 ribu.

Lebih parah lagi harga bawang putih. Berdasarkan Info Pangan di aplikasi Pemprov DKI Jakarta, harga rata-rata bawang putih kini sekilo mencapai Rp65 ribu.

Pantauan di pasar-pasar tradisional, diketahui harga tertinggi sekilo mencapai Rp100 ribu dan terendah Rp40 ribu. Padahal harga normal bawang putih sekilo di kisaran Rp20 ribu.

Melambungnya harga bahan pangan terutama bawang putih dikeluhkan emak-emak. Mereka mendesak pemerintah dan Pemprov DKI Jakarta mengendalikannya, sehingga tidak semakin liar.
Keluhan emak-emak dan adanya fakta bahan pangan naik, Gubernur Anies Baswedan blusukan ke pasar-pasar tradisional. Dia memerintahkan tim pengendali pangan mewaspadai ulah tengkulak yang menumpuk bahan pangan, sehingga merusak harga di pasaran.

Menyeimbangkan permintaan dengan persediaan, Pemprov DKI Jakarta melalui PT. Food Station Tjipinang Jaya juga mengimpor ratusan ton bawang putih dari kota Laiwu dan Henan, China.
Upaya Anies tentu kita apresiasi. Namun agar harga pangan bisa dikendalikan, pemerintah segera mengatasi masalah produksi dan distribusi pangan.

Ketersediaan bahan pangan harus melimpah dan distribusi juga perlu diatasi dengan baik. Berantas mafia pangan dan para tengkulak yang mempermainkan harga. @*