Saturday, 17 August 2019

Dendam Ayam Mati Diracun Nenek-Nenek Diperkosa

Jumat, 10 Mei 2019 — 6:59 WIB
10-DIA-MEI-19

MBAH Jumini, 57, dari Purworejo (Jateng) kesal betul jemuran padinya sering dimakan ayam tetangga. Maka 11 ekor ayam milik Jemino, 38, satu persatu diracunnya. Tentu saja sang pemilik marah. Demikian dendamnya, Jemino bukan menghajar habis si nenek, tapi malah memperkosanya sampai dua kali!

Biar disebut simbah, tak selalu secara pisik sudah keriput dan tua renta. Banyak nenek-nenek nampak lebih muda dari usianya. Lihat saja penyanyi dan pencipta lagu, Titik Puspa. Meski usianya sudah 80 tahunan, kelihatannya seperti 60 tahun saja. Tubuhnya tidak keriput, sepakterjangnya masih lincah dan enerjik. Padahal wanita-wanita seangkatan dia banyak yang terkena penyakit 7 B, yakni: budeg, beser, buyuten, blawur dan brat-bret-brot alias kentut melulu.

Agaknya Mbah Jumini dari Banyuurip Purworejo ini seperti Titik Puspa juga, penampilan lebih muda dari usianya. Sebagai orang desa, dia masih sanggup ngangkati gabah dan dijemurnya sendiri di halaman rumah. Hamparan gabah itu ditaruh di lantai yang telah diplester, sehingga bisa lebih cepat kering. Sore hari tinggal mengemasi kembali dimasukkan dalam karung.

Tapi belakangan Mbah Jumini kesal betul, jemuran padinya sering dimakan ayam-ayam tetangga, milik Jemino. Sudah dihalau dengan uthak (potongan bambu/kayu), tapi kembali lagi. Kesal jadinya Mbah Jumini, masak harus nongkrongi padinya dari menit ke menit hanya gara-gara ayam Jemino. “O, tak penthung temenan modar kowe (saya pukul mampus kamu),” omel Mbah Jumini.

Namanya ayam, dia tak tahu bahasanya manusia. Maka lain hari terus saja nyatroni jemuran padi Mbah Jumini. Dia pernah menegur Jemino agar ayamnya diurus, jangan dibiarkan kelaparan dan makan jemuran padi orang. “Namanya juga ayam mbah, bagaimana saya harus melarang. Tulisi saja larangan, ayam dilarang masuk!” kata Jemino bercanda.

Mbah Jumini jadi kesal. Memangnya ayam ngerti tulisan, kursus PBH (Pemberantasa Buta Huruf) kapan? Tanpa pikir panjang lain hari ayam-ayam itu diracun pakai kacang ijo yang sudah diberi bubuk arsenikum. Tak ayal lagi satu persatu ayam Jemino mati. Tentu saja Jemino marah, unggas piaraannya diracun tetangga, diapun melabraknya.

Bukan minta ganti rugi, tapi sebagai kompensasi Jemino tanpa malu-malu merayu si nenek agar mau diajak hubungan intim. Tentu saja si nenek menolak. “Ora butuh, wis tuwa ora mikir ngono-ngono iku (bodo amat, sudah tua tak mikir begituan)” jawab Mbah Jemini songong.

Jemino yang sudah kadung nafsunya ke ubun-ubun, jadi nekat. Mbah Jemini langsung dikuliti paksa dan diperkosa gusrak, gusrak. Karena malu, Mbah Jemini tak mau lapor ke keluarga, apa lagi polisi. Biarlah pengalaman buruk itu menjadi rahasia pribadinya, anak cucu jangan ada yang niru.

Tapi lain hari ternyata Jemino datang lagi dan ingin mengulang sukses. Tentu saja Mbah Jemini menolak. Lagi-lagi tanpa kompromi Jemino langsung memperkosanya. Sejak itu Mbah Jemini berfikir, kalau dirinya terus bertahan diam, rudal tetangga akan keterusan membobardir dirinya.

Maka Mbah Jumini lapor ke Polsek Banyuurip, dan Jemino pun ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengaku terus terang, dia memperkosa Mbah Jemini karena kesal 11 ekor ayamnya mati diracun Mbah Jumini. “Minta ganti rugi tak mungkin, ya diperkosa saja. Gitu saja kok repot,” kata Jemino enteng saja.

Rupanya Jemino memang pecinta benda purbakala. (Gunarso TS)