Tuesday, 21 May 2019

Mengatasi Tawuran Remaja

Senin, 13 Mei 2019 — 7:13 WIB

TAWURAN antar-remaja saat bulan Ramadan, terutama menjelang dan pasca-sahur di Jakarta semakin marak. Di wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Selatan, contohnya. Baru seminggu bulan  puasa setidaknya sudah beberapa kali terjadi tawuran dan mengakibatkan nyawa melayang.

Di Jakarta Selatan, Selasa (7/5) dini hari, tawuran terjadi di Jalan Amsar, Jagakarsa. Akibatnya   seorang pelajar meninggal dunia, karena dibacok.

Kemudian, pada Rabu (8/5) dini hari, tawuran terjadi di Jalan Raya Lenteng Agung Timur, Jagakarsa. Lagi-lagi mengakibatkan nyawa seorang pelajar juga melayang.  Sementara di  Jakarta Utara, tepatnya Clincing, Minggu (12/5) dini hari, terjadi ‘perang sarung’ dan satu  orang meninggal dunia.

Tawuran antar-remaja di kota-kota besar, termasuk Jakarta dan sekitarnya sepertinya bagai karat yang susah dibersihkan. Tawuran bagi mereka bagai penunjukkan  identitas  akan kemampuan dan kebanggaan diri  maupun kelompoknya.

Ada banyak faktor  yang menyebabkan remaja itu terlibat tawuran. Bisa saja mereka terlibat tawuran karena kurang perhatian orangtua, tuntutan solidaritas dengan teman, krisis identitas maupun faktor lainnya.

Mencegah maraknya tawuran,  Polres Jakarta Selatan  meningkatkan patroli hingga menjelang subuh. Polri bersama TNI keliling wilayah terutama di titik-titik rawan bentrok antara remaja. Bukan itu saja, petugas juga merazia peserta Sahur On The Road (SOTR) karena dinilai berpotensi konflik.

Kegiatan preventif seperti meningkatkan patroli atau mensweeping untuk mencegah pecahnya tawuran memang perlu dilakukan. Namun, untuk mengatasi tawuran antara remaja seharusnya tidak sepenuhnya dibebankan ke pundak aparat keamanan saja.

Orangtua dan keluarga memiliki peran besar dalam mencegah tawuran antar remaja. Caranya Orangtua harus meningkatkan pengawasan terhadap anak saat menjelang dan pasca sahur, sehingga tidak keluyuran di jalanan.

Meminjam imbauan Gubernur Anies Baswedan, “Mengatasi tawuran antara remaja sebaiknya orangtua bisa memastikan anaknya sahur di rumah. Bila anak sahur di rumah maka tidak ada remaja yang berkonvoi membawa senjata tajam dan bergerombol di pinggir jalan.”

Selain itu, untuk mencegah tawuran, tidak ada salahnya pengurus  RT, RW, dan tokoh masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan dan warganya. Karena pencegahan tawuran antar remaja bisa dimulai  dari lingkungan terdekat.

Pendek kata tawuran antar remaja adalah pekerjaan rumah (PR) bersama. Cara mengatasinya, tentu harus dilakukan bersama-sama. @*