Wednesday, 21 August 2019

Oposisi Kerjanya “Memukul” Oleh Jokowi Ingin Dirangkul?

Senin, 13 Mei 2019 — 7:55 WIB
jokowi bagi bagi

HAMPIR dipastikan, Jokowi akan memperpanjang masa pemerintahannya di periode kedua, 2019-2024. Presiden Jokowi ada tanda-tanda hendak merangkul oposisi masuk kabinet, dengan tujuan untuk mempersatukan anak bangsa yang lima  tahun terbelah. Enak ya, kerjanya selalu “memukul” malah dirangkul. Bagaimana dengan mitra koalisi Jokowi?

Sejak Pilpres 2014, bangsa Indonesia terbelah, antara yang pro Jokowi dan pro Prabowo. Pada Pilpres 2019 ini semakin dipertajam, karena kembali Jokowi berlaga dengan “musuh” lamanya Prabowo. Yang pro Jokowi disebut kecebong, sementara yang pro Prabowo disebut kampret, yang bahasa lainnya disebut codot (kelelawar).

Selama 4,5 tahun pemerintahan Jokowi-JK, hampir tiada hari tanpa “pukulan” dari kubu oposisi. Apa saja kebijakan pemerintah, selalu diserangnya. Dari Gerindra si Fadli Zon, PKS Fahri Hamzah, Demokrat Ferdinan Hutahaean dan Andi Arif. Dari PAN sesepuhnya langsung Amien Rais. Menjelang Pilpres 2019 barisan penyerang Gerindra ditambah Andre Rosiade dan Dahnil Anzar. PAN Faldo Maldini dan Eggi Sujana, PKS Mardani Alisera.

Gara-gara beda pilihan dukungan, 4,5 tahun bangsa Indonesia terbelah. Maka setelah Pilpres usai dan Jokowi terpilih kembali, rekonsiliasi itu harus dibangun. Caranya, Jokowi ingin mengajak dari kubu oposisi masuk kabinet. Tak ada lagi kampret dan kecebong, yang ada para komponen bangsa ingin membangun negara dalam bingkai NKRI.

Jika pinjam istilah Rocky Gerung, rasanya di luar akal sehat, pihak oposisi yang tiada hari tanpa “memukul”, kok sekarang oleh Jokowi mau dirangkul? Tapi dalam politik kan ada adagium: tak ada kawan dan lawan abadi, yang abadi kepentingan. Jadi sah-sah saja, kemarin gegeran sekarang jadi ger-geran.

Naga-naganya tekad rangkul oposisi ini bakal diimplementasikan dalam rombakan kabinet setelah Lebaran nanti. PAN (Zulkifli Hasan) dan Demokrat (AHY) sudah ketemu langsung Jokowi. Ada kemungkinan kedua partai itu akan bergabung di kabinet rembang petang (baca: hampir berakhir). Tapi bisa juga dipertahankan, pada periode kedua Kabinet Kerja.

Jika periode kedua nanti Jokowi benar-benar mengambil sejumlah menteri dari oposisi, ini benar-benar ancaman bagi parpol mitra koalisi. Enak betul dia, tidak ikut berkeringat, tahu-tahu dapat jatah. Paling mengkhawatirkan, jatah kursi menteri  bisa berkurang gara-gara dibagi-bagi buat parpol oposisi. Padahal mereka yang merasa paling banyak berjasa, harus banyak pula menterinya. – (gunarso ts)