Wednesday, 17 July 2019

Tepo Seliro

Senin, 13 Mei 2019 — 5:50 WIB

Oleh Harmoko

DALAM kegiatan kemasyarakatan, para sesepuh Jawa selalu menasehatkan pentingnya sikap ‘tepo seliro’ yang berarti tenggang rasa atau menenggang perasaan orang lain. Toleransi adalah sebutan yang populer di masa kini.

Petuah itu bukan spesifik suku Jawa, tentunya. Sebab semua suku bangsa mengajarkannya dalam berbagai bentuk dan petunjuk, yang utamanya sikap toleransai, tenggangrasa, dan ‘tepo seliro’ kepada orang dan pihak lain.

Orang Jawa menempatkan budi pekerti sebagai laku hidup. Dan ‘tepo seliro’ atau tenggang rasa, merupakan salah satu ajaran laku hidup yang penting. Sebagai salah satu modal dasar berhubungan dengan orang lain, bersosialisasi.

Tidak peduli sebanyak apa pun titel yang disandang atau sehebat apa pun jabatan kita dalam komunitas yang berada di bawah tanggung jawab kita, penting dari masing- masing untuk menjaga perasaan orang lain, tidak menyinggung dan melukai hati orang, baik dalam ucapan, gerak tubuh, (body language), maupun perilaku yang ditunjukkan di depan umum.

Dengan sikap ‘tepo seliro’  hadirlah suasana rukun, bersahabat, harmonis dan serasi dalam hubungan antar- sesama manusia.

Sering orang menganggap, tenggang rasa ini mudah dan sederhana. Apa susahnya menghargai perasaan orang lain sebagaimana kita pun ingin diperlakukan demikian? Namun dalam penerapannya, ‘tepo seliro’ ini sering diabaikan.

‘Tepo seliro’ tak hanya diperlukan dalam hubungan keluarga, sesama saudara kerabat yang berbeda-beda wataknya, melainkan diperlukan juga dalam bertetangga sekitar rumah. Bahkan dalam skala yang luas, juga dalam bersosial, berpolitik, beragama dan lainnya, “tepo seliro” dibutuhkan perannya.

Kumpulan kekeluargaan yang memiliki tenggang rasa tinggi akan menghasilkan sebuah harmoni kehidupan bernegara, yang kelak pada akhirnya tercipta rasa nyaman dan kedamaian yang lebih luas.

Sikap tenggang rasa alias ‘tepo seliro’ harus diajarkan kepada anak didik,  terutama harus dijadikan bekal yang dibawa dari rumah, dan terutama dari lubuk hati yang dalam.  Pergaulan adalah kumpulan pribadi-pribadi yang berbeda, dari keluarga yang beda, suku beda, agama beda, akan tetapi bergabung bersama untuk satu tujuan. Sama- sama menimba ilmu, berlatih untuk ketrampilan dan kegiatan.

Pendidikan dan ajaran di rumah, di dalam keluarga, menentukan tumbuhnya sikap ‘tepo seliro’ atau tenggang rasa itu, menyusul bekal tambahan dari guru di sekolah.

Pendidikan formal yang tinggi tidak menjamin seseorang bisa menenggang rasa kepada orang lain. Karena tidak adanya ajaran serta contoh dari, dan di rumah. Watak egois dan nafsi- nafsi adalah penyebab utama absennya pengajaran ‘tepo seliro’ di dalam keluarga, di rumah dan lembaga pendidikan, yaitu sekolah.

Di atas kertas, seharusnya ketinggian tingkat pendidikan sejalan dengan tingginya toleransi dan budi pekerti. Akan tetapi tidak demikian dalam kenyatannya.

Agaknya,  materi pendidian budi pekerti dan tenggang rasa perlu dihadirkan lagi di sekolah- sekolah dasar, menengah dan sampai pendidikan tinggi.

Tokoh – tokoh masyarakat memegang peranan penting. Juga tokoh berpengaruh di panggung politik. Sikap intoleransi kini merebak karena, sadar atau tidak, disebarkan oleh tokoh- tokoh masyarakat dan politisi berpengaruh.

Menjunjung tinggi  tenggang rasa atau “tepo seliro” bukan saja menjadi hal penting di dalam mewujudkan harmoni kehidupan, namun juga akan menjadikan setiap diri mencapai martabat yang baik di hadapan manusia dan Tuhannya.
Sebagaimana pepatah Jawa lain mengajarkan ; “ajining diri dumunung soko lathi”, “ajining rogo soko busono”– tingginya martabat seseorang tergantung (berasal) dari perkataannya dan penampilanya ( tingkah laku) kesehariannya sendiri.
Sebelum pemerintah menghadirkan kembalI pendidikan budi pekerti di bangku pendidikan, kita sebagai orang tua harus benar-benar memberi perhatian khusus dalam rangka mengajarkan ‘tepo seliro’ atau tenggang rasa ini dalam bentuk pemahaman maupun keteladanan bagi anak-anaknya sedari dini. (*)