Wednesday, 21 August 2019

Pesawat Terbang Bukan Lagi Angkutan Murah Bagi Rakyat

Selasa, 14 Mei 2019 — 7:15 WIB
sentilan tiket pesawat

SEMENJAK ada maskapai Lion Air, rakyat kelas bawah pun mampu naik pesawat terbang, karena tarifnya yang murah meriah. Tapi sejak Januari 2019 kembali harga tiket mencekik leher. Ancaman bagi dunia pariwisata. Pemerintah minta supaya harga diturunkan, tapi tak digubris. Terpaksa Menhub Budikarya Sumadi memaksa turunkan tarif sampai 15 persen.

Lion Air milik pengusaha Rusdi Kirana – kini Dubes di Malaysia– adalah pelopor penerbangan berbiaya murah. Dengan Rp 500.000,- sudah bisa terbang Jakarta-Yogyakarta, bahkan dengan tarif promo, uang Rp 300.000,- mampu menerbangkan Anda ke Solo maupun Yogyakarta.

Tarifnya yang ekonomis, membuat orang berduit pun tak malu lagi pesawat Lion Air yang murah meriah. Di bandara Adisucipto Yogyakarta, pengacara kondang Mohammad Asegaf SH pernah diolok-olok penumpang, gara-gara mau naik Lion Air ke Jakarta. “Hai, orang kaya kok naik Lion Air….!” Teriakan itu dijawab pengacaranya Abubakar Baasyir dengan lantang, “Memangnya nggak boleh?”

Terobosan gaya Lion Air kemudian ditiru juga oleh Adam Air, Citilink anak usaha Garuda. Ciri khas pesawat berbiaya murah, di atas tak ada snack dan minuman, semua garingan saja. Tapi penumpang tetap suka, dan dampaknya ke sektor pariwisata juga naik.

Tapi sejak sering terjadi kecelakaan pesawat, pemerintah melarang penerbangan berbiaya terlalu murah itu. Sebab tarif murah, nyawa orang juga jadi murah. Nah mulai Januari 2019, pesawat terbang kembali jadi angkutan mewah. Naik Lion Air Jakarta-Yogyakarta sampai Rp 1 juta lebih, Citilink juga sama. Apa lagi Garuda, dengan rute sama bisa sampai Rp 1,2 juta.

Menhub Budikarya Sumadi pernah minta rakyat memahami kenaikan tarif itu, karena semua itu demi meningkatkan keamanan penerbangan. Tapi rakyat yang sudah biasa “mbayar selawa njaluk slamet” kemudian mengajukan petisi lewat medsos agar tarif diturunkan. Menhub minta maskapai menurunkan sesuai dengan TBA (Tarif Batas Atas), tapi tak digubris. Lagi-lagi petisi muncul di medsos, pecat Menhub Budikarya Sumadi.

Karena  maskapai penerbangan tak menggubris juga, Kemenhub akan menurunkan tarif itu secara paksa sampai 15 persen. Sebab dengan melejitnya tarif pesawat, dunia pariwisara terancam. Dan arus mudik dan balik Lebaran nanti diprediksi kemacetan parah akan terjadi karena rakyat kembali lebih banyak pakai mobil pribadi. – (gunarso ts)