Sunday, 21 July 2019

YLKI: Tarif Batas Atas Sudah Diturunkan, Tiket Pesawat Masih Mahal

Selasa, 14 Mei 2019 — 23:54 WIB
Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi (Ist)

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi (Ist)

JAKARTA – Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai penurunan persentase tarif batas atas (TBA ) 12 – 16 persen kurang berpengaruh, maskapai tetap menetapkan tarif tinggi atau masih tetap mahal.

“Di atas kertas memang bisa menurunkan tarif pesawat, namun secara praktik belum tentu demikian. Faktanya semua maskapai telah menerapkan tarif tinggi, rata-rata di atas 100 persen dari tarif batas bawah,” tutur Tulus menanggapi penurunan tiket tarif batas atas.

Menurutnya. turunnya TBA tidak akan mampu menggerus tingginya harga tiket pesawat dan tidak akan mampu mengembalikan fenomena tiket pesawat murah.

YLKI justru mengkhatirkan, setelah Menhub menurunkan TBA juatru akan direspon negatif oleh maskapai dengan menutup rute penerbangan yang dianggap tidak menguntungkan atau setidaknya mengurangi jumlah frekwensi penerbangannya.

Langkah Menhub merespons cepat desakan dari masyarakat sudah tepat, sebagai regulator Kemenhub memang berkompeten untuk mengatur TBA pesawat udara, sebagamaina diatur dalam UU tentang Penerbangan.

Tindakan Menhub menurut Tulus sebagai klimaks dari kejengkelan Budi Karya atas tingginya tarif pesawat udara.

Kendati maskapai belum melanggar ketentuan TBA, sepatutnya Garuda selaku penerbangan plat merah bisa menurunkan harga tiketnya, sebab harga avtur sudah diturunkan.

Pemerintah seharusnya tidak hanya mengutak-atik formulasi TBA saja untuk menurunkan tarif tiket, tetapi bisa juga menghilangkan/menurunkan PPN tarif pesawat, sebesar 10 persen menjadi 5 persen.

“pemerintah harus fair, jangan hanya menekan maskapai saja, tetapi pemerintah tidak mau mereduksi potensi pendapatannya,m menghilangkan menurunkan PPN tiket pesawat,” ujar Tulus. (dwi/win)