Monday, 20 May 2019

Ada Ketegangan dengan Iran, AS Perintahkan Staf Kedutaan Tinggalkan Irak

Kamis, 16 Mei 2019 — 8:43 WIB
tank-amerika

AMERIKA- Departemen Luar Negeri AS telah memerintahkan semua staf mereka di kedutaan di Baghdad Irak dan konsulat di Erbil untuk pulang ke AS, di tengah meningkatnya ketegangan antara AS dengan Iran, negara tetangga Irak.

Kecuali mereka yang benar-benar diperlukan untuk kepentingan darurat, semua staf harus meninggalkan Irak secepat mungkin dengan penerbangan komersial.

Sementara itu, tentara Jerman dan Belanda telah menangguhkan operasi latihan militer bersama di Irak karena ketegangan di kawasan ini.

Militer AS mengatakan pada Selasa bahwa tingkat ancaman di Timur Tengah meningkat setelah ada laporan intelijen tentang pasukan yang didukung Iran di wilayah tersebut.

Sikap yang ditunjukkan pemerintah AS ini bertentangan dengan pernyataan seorang perwira Inggris yang mengatakan “tidak ada ancaman yang meningkat”.

Chris Ghika, wakil komandan pasukan koalisi global dalam memerangi kelompok Negara Islam atau ISIS, mengatakan kepada wartawan bahwa upaya yang dilakukan untuk melindungi pasukan AS dan sekutunya dari ancaman milisi yang didukung Iran di Irak dan Suriah “sepenuhnya memuaskan”.

Sementara itu, Presiden Donald Trump dalam cuitan Twitternya menepis isu adanya pertikaian di Gedung Putih perihal “kebijakan kuat di Timur Tengah”, dengan menambahkan: “Saya yakin Iran menginginkan adanya pembicaraan secepatnya.”

Mengapa staf AS harus dipulangkan?

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS mengatakan: “Memastikan keselamatan personil dan warga negara AS adalah prioritas utama kami dan kami yakin dengan (kemampuan) kemampunan pasukan keamanan Irak untuk melindungi kami.”

Namun demikian, “Ancaman ini serius dan kami ingin mengurangi risiko bahaya.”

Komando Pusat militer AS juga berbicara tentang “adanya ancaman yang sudah teridentifikasi seperti yang dilaporkan intelijen AS dan sekutunya”. Pernyataan ini disampaikan secara terbuka sekaligus membantah pernyataan Jenderal Ghika.

Kementerian Pertahanan Inggris menekankan bahwa “satu-satunya fokus” Jenderal Ghika adalah menitikberatkan kepada kemampuan kelompok ISIS yang mampu bertahan, walaupun kelompok itu telah mengalami kekalahan.

Dijelaskan pula ada sejumlah ancaman terhadap pasukan koalisi di kawasan tersebut yang membutuhkan langkah-langkah perlindungan yang sangat kuat.

Sementara itu, Kementerian Pertahanan Jerman mengatakan pada Rabu bahwa mereka telah menangguhkan program pelatihan militernya di Irak.

Juru bicara Kemenhan Jerman mengatakan mereka telah menerima indikasi potensi serangan yang didukung Iran, tetapi tidak ada ancaman khusus terhadap 160 tentara Jerman yang terlibat dalam operasi pelatihan.

Adapun Kementerian pertahanan Belanda mengatakan militer Belanda juga menangguhkan misi pelatihannya, karena ancaman yang tidak ditentukan, seperti dilaporkan media setempat.(BBC)