Wednesday, 17 July 2019

Kendalikan Hawa Nafsu

Kamis, 16 Mei 2019 — 6:57 WIB

Oleh Harmoko

ADA pepatah mengatakan musuh terbesar dalam hidup kita bukan datang dari luar. Musuh berbahaya bukan berada di sekeliling kita, tetapi dalam diri kita. Musuh dimaksud adalah hawa nafsu dengan beragam latar belakangnya.

Andai peperangan, untuk memenangi perang, harus mampu menaklukkan musuh yang bersemayam dalam diri kita yang setiap saat dapat meletup tanpa diduga sebelumnya.

Musuh yang disebut “hawa nafsu” itu harus dikendalikan agar tidak salah arah.

Hawa nafsu itu sendiri secara bahasa adalah keinginan yang kuat, kecintaan atas sesuatu yang menguasai hatinya. Hawa nafsu sering juga dimaknai sebagai kekuatan emosional yang sangat besar dalam diri seseorang menyangkut pemikiran, kehendak atau boleh jadi fantasi diri.

Jika tidak dikontrol, dapat menyeret seseorang melanggar etika dan norma. Orang melakukan korupsi misalnya, bukan karena tidak tahu bahwa korupsi itu melanggar hukum. Tetapi lebih karena tidak memiliki kemampuan mengendalikan hawa nafsu, keinginan kuat dalam hatinya untuk mendapatkan uang berlimpah dengan mudah.

Di era kini, di tengah kompetisi kehidupan yang kian ketat, menjadikan kontrol diri semakin penting menyatu dalam kalbu sebagai kekuatan penyeimbang hawa nafsu.

Secara umum kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan diri sendiri agar perilaku tidak merugikan orang lain. Sikap dan perbuatannya sesuai dengan norma ideal, sosial dan moral yang berlaku di lingkungannya.

Sejatinya nafsu tidak selamanya terkait dengan hal – hal yang buruk. Menurut telaah para ahli tasawuf, nafsu memiliki tingkatan dari yang terburuk hingga yang terbaik. Tapi dalam konteks tulisan ini membatasi pada ” hawa nafsu” terkait hal buruk yang harus dikendalikan sehingga perilaku buruk tadi tidak semakin menumpuk.

Hal buruk dimaksud selain sifat serakah yang melahirkan perilaku korup, juga sifat mau menang sendiri, benar sendiri, sombong dan tinggi hati. Dalam cakupan yang lebih luas lagi adalah perbuatan buruk lainnya yang tidak saja melanggar norma hukum dan agama, juga etika, adat dan budaya.

Meremehkan orang lain, merendahkan orang lain, sementara menganggap dirinya paling baik memperlihatkan belum adanya niat pengendalian diri. Menganggap orang lain sebagai penghambat lajunya prestasi, menuduh orang lain sebagai penyebab kegagalan, mencerminkan belum adanya upaya mawas diri atas kegagalan diri sendiri. Selagi masih terus menghakimi orang lain, mencari- cari aib orang lain, tapi lupa atas aib diri sendiri, cermin masih rendahnya kemampuan mengontrol diri ( self control) terhadap hawa nafsu yang bermukim dalam diri.

Agama manapun senantiasa mengajarkan kebaikan, bukan keburukan. Mengendalikan hawa nafsu menjadi filter agar tidak terjerumus kepada keburukan.

Ada filosofi yang sekiranya menjadi inspirasi, yakni “Kendalikan hawa nafsumu sebelum ia menghancurkanmu.”

Kita tentu sepakat jadilah hamba Allah SWT, bukan hambanya nafsu.(*)