Monday, 22 July 2019

Mengaku Bisa Hilangkan Sial dan Galau, Dukun Ini Cabuli 20 ABG

Kamis, 16 Mei 2019 — 8:18 WIB
ilustrasi

ilustrasi

JAKARTA– Dengan modus agar korbannya tidak bernasib buruk dan agar jangan selalu sial dan galau dukun ini menawarkan jasanya. Nyatanya korbannya justru lebih bernasib buruk karena akhirnya dicabuli.

Tidak tanggung-tanggung ada 20 gadis di bawah umur yang jadi korban dukun RGS (26). Beruntung Polres Garut Jawa Barat segera meringkus tersangka sehingga korbannya tidak lagi berjatuhan.

Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna , Rabu (15/5/2019) mengatakan tersangka ditangkap berkat laporan seorang korbannya. Dari hasil pemeriksaan diketahui ternyata korbannya cukup banyak. Data sementara 20 orang, dan tidak tertutup kemungkinan bertambah.

Menurut AKBP Budi Satria, RGS mengaku korbannya, selain anak-anak perempuan di kampungnya, juga mencari korban lewat media sosial Facebook, dengan cara menjadi teman curhat.

Biasanya RGS mengorek-ngorek masalah yang dihadapi cewek-cewek ABG itu dan biasanya dia cepat dengan korbannya apalagi yang sedangan didera masalah.
Kepada korbannya pelaku menawarkan solusinya yaitu dengan cara mulai dari berhubungan badan hingga hanya disentuh pelaku. “Ada dua ritual yang ditawarkan yang disebut pelaku yaitu kias dan pangsal, ritual ini disebutnya untuk menghindari nasib sial,” kata Budi.

“Namanya Kias untuk menghilangkan sial dan Pangasal untuk mengembalikan seolah korban terlahir kembali. Ada ritual membuka baju hingga telanjang dan berhubungan intim,” ujar Kapolres Garut AKBP Budi Satria Wiguna

Sebanyak 20 orang gadis di bawah umur diduga jadi korban aksi cabul dari RGS (26) yang mengaku sebagai dukun.

Budi memastikan, pelaku bukanlah seorang dukun, apalagi seorang guru mengaji. Sehari-harinya, bujangan tersebut bekerja serabutan di kampungnya.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut, Diah Kurniasari yang hadir dalam jumpa pers menyampaikan, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada para korban dan keluarganya. Pendampingan diberikan sementara proses hukum terhadap pelaku akan dilakukan oleh pihak kepolisian.

“Seperti biasa kita siapkan tim psikolog, karena jumlah korbannya banyak dan orangtuanya juga perlu dampingan, mereka pasti juga tertekan dengan masalah anaknya,” katanya. Diah menyesali apa yang menimpa para korban di usianya yang masih muda.(b)