Saturday, 21 September 2019

Menjaga Kerukunan

Senin, 20 Mei 2019 — 5:54 WIB

Oleh Harmoko.

MODAL penting sosial kita dalam membangun negara dan menyejahterakan rakyatnya adalah persatuan dan kerukunan.

Kita sudah dipersatukan sebagai bangsa, kumpulan dari suku-suku yang ada di Nusantara dengan komitmen kuat dalam ikatan NKRI. Maka selain menjaga persatuan juga menjaga kerukunan.

Sebab dinamika sosial dan politik sering menciptakan gesekan yang membuat masyarakat kita terpecah belah dan terpolarisasi.

Dalam kasus paling aktual adalah Pemilu 2019, untuk memilih presiden dan wakilnya serta wakil rakyat di pusat dan daerah – yang membuat rakyat terbelah dan terpolarisasi dalam dua kubu utama.

Maka setelah pesta demokrasi 2019 ini usai mari kita menjaga kerukunan. Bersatu kembali sebagai bangsa untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, lebih maju dan sejahtera.

Kerukunan menyangkut keseimbangan sosial dalam masyarakat, dimana masyarakat sering melewati masa-masa sulit dalam menciptakan kondisi yang benar-benar tenteram dan damai.

Pertikaian yang terjadi dalam masyarakat bisa disebabkan oleh banyak faktor kepentingan. Dan kepentingan-kepentingan yang bersinggungan mengakibatkan ketidak harmonisannya hubungan dalam kehidupan bermasyarakat.

Dalam sejarah kehidupan manusia, juga dalam sejarah bangsa kita pertikaian antar-sesama elemen masyarakat dan bangsa sulit dihindari.

Maka, pada setiap generasi setiap pemimpin yang ada, juga diuji kemampuannya mempertahankan persatuan dan menciptakan kerukunan.

Kaum bijak bestari menyatakan kerukunan dalam masyarakat sulit diciptakan lantaran manusia belum menyadari bahwa musuh sesungguhnya adalah dirinya sendiri dan bukan siapa yang ada di hadapannya.

Padahal Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk yang sempurna dan istimewa. Namun dengan karunia yang diberikan Tuhan ini, ternyata tidak membuat manusia sadar akan posisinya.

Mari belajar pada alam semesta beserta isinya yang diciptakan Tuhan demikian harmonisnya. Bahkan segala kehidupan yang ada di muka bumi ini sudah dirancang agar berjalan dengan teratur.

Kemudian manusialah, makhluk ciptaan terpilih, yang diharapkan mampu menjadi penguasa bumi, yang dapat memperlakukan makhluk ciptaan-Nya secara arif dan bijaksana. Bahkan senantiasa mengingat Tuhannya serta selalu berbuat baik terhadap sesama

Dalam kehidupan modern dan semakin kompleks, kita tidak bisa hidup secara individual – nafsi nafsi Dalam keseharian kita pasti dan harus berinteraksi satu sama lain dan saling membutuhkan.

Maka tak ada pilihan lain selain menjalin kerukunan.

Mari kita bersama-sama merajut kembali kebersamaan kita sebagai bangsa untuk menyongsong masa depan yang lebih baik. Juga demi anak cucu kita serta generasi pewaris kita di masa depan .(*)