Sunday, 18 August 2019

Miris… Bekas Marbot Ini Sakit Komplikasi Hanya Dijaga Putrinya yang Depresi

Senin, 20 Mei 2019 — 18:51 WIB
Siti Nurjanah mengelus ayahnya yang tak berdaya didera sakit komplikasi dirumah kontrakan Kp Pandai Ds Sawah Kulon, Kec Pasawahan,Purwakarta. (dadan)

Siti Nurjanah mengelus ayahnya yang tak berdaya didera sakit komplikasi dirumah kontrakan Kp Pandai Ds Sawah Kulon, Kec Pasawahan,Purwakarta. (dadan)

PURWAKARTA – Nasib tragis mendera lansia miskin yang tinggal di Kampung Pandai Rt 02/01 Desa Sawah Kulon Kecamatan Pasawahan, Purwakarta, Jawa Barat.

Bagaimana tidak, Yaya Sunarya, 72, didiagnosa medis menderita penyakit komplikasi paru paru dan gagal ginjal . Yaya Sunarya pun melalui keseharian dengan tergolek lemas dengan nafas tersengal-sengal.

Istri Yaya, Mak Iroh, telah lebih dulu berpulang menghadap Illahi. Yaya dikarunia dua anak yakni Siti dan Dedah.

Ironis lagi, eks marbot Masjid Al Muhajirin itu ditemani anak bungsunya Dedah Fatimah, 31, yang juga menderita penyakit depresi. Alih alih cepat sembuh kondisi Yaya kian memprihatinkan.

Kisah pilu Yaya dan anaknya yang sama-sama sakit rupanya sudah banyak diketahui masyarakat Sawah Kulon. Reaksinya beragam antara yang berempati dan nyinyir.

“Oh di sana samping tanah pekuburan rumah Pak Yaya yang diurus anaknya yang sakit jiwa,”ucap warga kepada Pos Kota saat menanyakan rumah penderita komplikasi ginjal dan paru, Senin (20/05/2019).

Anak sulung Yaya, Siti Nurjanah, 38, tak menapikan hal tersebut. “Iya sudah diketahui aparat kampung dan masyarakat sini. Pa RW bahkan sempat membantu Rp 300 ribu. Kalau ke Pak RT, saya minta dibantu dimasukkan ke daftar penerima PKH,”ungkap Siti.

Siti menyebutkan ayahnya sudah hampir setahun sakit. Semula paru paru kemudian menjalar ke gagal ginjal hingga harus melakukan cuci darah. Beruntung, memiliki KIS hingga berobat pun tak bayar.”Seminggu lalu dirawat di RSUD Bayu Asih, tapi kondisi belum membaik,”ujarnya.

Siti menyebutkan, pihaknya berharap ada yang membantu meringankan problem dihadapi ayah dan adiknya. “Saya hidup pas-pasan mengandalkan suami sopir angkot. Saya ingin mengurusi bapak dengan membawanya ke rumah tetapi saya memiliki anak kecil khawatir tertular,”ungkapnya.

Siti menyadari ayahnya tak terawat maksimal bila diurusi adiknya yang sakit depresi. “Saya dilema Pak. Saya ingin memecahkan masalah satu persatu. Saya ingin adik saya dibawa pemerintah ke RSJ Cisarua dan bapak ditangani serius di rumah sakit,”kata Siti.

Kondisi sekarang di rumah kontrakan Rp 250 ribu perbulan dua duanya sakit. “Saya bingung, bapak sakit, adik saya pun sakit jiwa. Sedangkan saya punya keluarga yang harus saya urusi,”ujarnya.

Siti kerap menitipkan bapak dan adiknya ke tetangga. Uda, tetangga Yaya, mengakui ikut memerhatikan kondisi sakit Yaya dan anaknya. “Benar benar tragis dan kasihan,”ucap Uda.

Uda pun berinisiatif menggalang dana secara sirkulir kepara pedagang musiman ketika dia masar/berdagang. Hasilnya, dia kasihkan ke Yaya untuk biaya hidup sehari hari.” Saya berharap, pemkab Purwakarta cepat turun tangan membantu menyelesaikan permasalah kesehatan dihadapi bapak dan anak,”pungkasnya. (dadan/b)