Saturday, 24 August 2019

Zohri, Bintang Atletik Masa Depan Indonesia

Selasa, 21 Mei 2019 — 1:25 WIB
Lalui Muhammad Zohri, sprinter Indonesia yang melaju ke final lari 100 meter Asian Games. (ikbal)

Lalui Muhammad Zohri, sprinter Indonesia yang melaju ke final lari 100 meter Asian Games. (ikbal)

MENJADI yatim piatu dan pernah tinggal di gubuk yang reot, tidak pernah mematahkan semangat Lalu Muhammad Zohri sebagai pelari untuk menggapai impian. Atlet yang kini menjadi andalan Indonesia di cabang atletik tersebut, bahkan kembali mengharumkan nama Indonesia setelah menggenggam tiket untuk berlaga di Olimpiade Tokyo 2020 mendatang.

Tiket berlaga di ajang multievent terbesar sejagat itu diraih Zohri setelah finis di urutan ketiga pada partai final nomor 100 meter putra Golden Grand Prix 2019 di Osaka, Jepang, Minggu (19/5) kemarin.

Ia berhasil finis dengan catatan waktu 10,03 detik. Ia hanya kalah 00,03 detik dari dari juara dunia sprint asal Amerika Serikat, Justlin Gatlin di posisi pertama dan 00,01 detik dari pelari tuan rumah, Kiryu Yoshihide. Zohri pun tidak mampu menyembunyikan kebahagian, menanggapi kesuksesannya itu.

Ia bahkan tidak menyangka bisa finis di peringkat ketiga, mengalahkan tiga pelari tuan rumah lainnya, yakni Koike Yuki, Ramagata Ryota, dan Tada Shuhei di posisi keempat hingga keenam. Apalagi sang lawan, Gatlin merupakan peraih medali emas 100 meter Olimpiade 2004, dan perak di Olimpiade 2016. Saat itu, Gatlin hanya kalah dari manusia tercepat di dunia, yakni Usain Bolt. “Luar biasa, bisa lari dengan pelari-pelari kelas dunia,” kata atlet berusia 18 itu, selepas perlombaan,

BERHAK TAMPIL

Dengan sukses tersebut, Zohri dipastikan berhak tampil di Olimpiade Tokyo tahun depan karena limit yang disyaratkan untuk lolos Olimpiade adalah minimal 10,05 detik. Dengan waktu 10,03 detik itu pula, Zohri mempertajam rekor nasional sekaligus Asia Tenggara, untuk nomor 100 meter miliknya. Sebelumnya, Zohri membukukan waktu 10,13 detik pada ajang yang berlangsung di Qatar, April lalu. Di ajang Seiko Golden Grand Prix 2019 ini, Zohri tampil sebagai pelari undangan.

Zohri mendapat undangan tampil di Golden Grand Prix 2019 setelah meraih medali perak pada kejuaraan di Doha Qatar, April lalu. Kini, Zohri punya waktu kurang dari dua tahun untuk mempersiapkan diri sebelum turun di Olimpiade 2020. Tidak hanya lolos ke Olimpiade tahun depan, kejutan juga sudah menanti Zohri. Pasalnya, rumah keluarga yang terletak di Dusun Karang Pangsor, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat itu, telah rampung direnovasi.

Sebelumnya, rumah masa kecil Zohri itu berdinding kayu dan lantainya pun bukan lantai keramik. Sementara atap rumahnya juga sudah rapuh, bahkan lemari untuk menaruh baju terlihat seadanya. Zohri pun berpesan jika rumah tersebut boleh direnovasi asal tidak mengubah bentuknya. Bukan tanpa alasan, rumah itu adalah rumah peninggalan orangtuanya dan memiliki kenangan yang tak akan terlupakan. “Kami sudah sepakat tak akan mengubah rumah peninggalan orang tua kami,” tandas Zohri.

Bagi Zohri, rumah tersebut memang memiliki sejarah yang tidak dapat terlupakan. Selain itu, rumah tersebut juga mengingatkan Zohri terhadap kedua orang tuanya yang sudah tiada. Sang ayah, Lalu Ahmad Yani sudah meninggal dunia pada tahun 2017, sementara sang ibu, Saeriah lebih dulu pergi pada tahun 2015. Di rumah tersebutlah, Zohri dibesarkan bersama ketiga kakaknya, Fazila (29), Lalu Ma’rib (28), dan Baiq Fujianti (Almh). Meski hidup dalam keterbatasan dan menjadi piatu, Zohri tidak pernah patah semangat.

Tekadnya membahagiakan orang tua, membuatnya menjelma sebagai pelari andalan Indonesia. “Cita-citanya mau banggakan keluarga dan buatkan rumah. Kerja kerasnya itulah yang membuat kami bangga. Biarkan sudah menjadi kenangan masa-masa sulit adik saya. Kami sempat bicara dan kita sepakati ini rumah tetap berdiri dengan bantuan renovasi, tanpa mengubah bentuk dan ukurannya,” kata sang kakak, Fazilla menceritakan tentang pengakuan Zohri.

Selain kerja kerasnya, Zohri juga mendapat dukungan dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) untuk merenovasi rumah berukuran 5×7 meter milik keluarga, lengkap dengan berbagai perabot rumah tangga yang merupakan sumbangan dari PB PASI. Kementerian PUPR bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lombok Utara juga membangun rumah baru lain untuk Zohri di atas lahan seluas 500 meter persegi. Lokasinya hanya berjarak sekitar 1,5 km dari rumah lama Zohri yang direnovasi. (junius/bu)