Sunday, 25 August 2019

Pelatih Sepakbola Bukan Cari Untung

Sabtu, 25 Mei 2019 — 0:30 WIB
M Ikhsan Kartika akrab disapa Ika. (saban)

M Ikhsan Kartika akrab disapa Ika. (saban)

JANGAN jadi pengurus perkumpulan sepakbola kalau hanya untuk mencari keuntungan, tapi keluarkan uang untuk membina mereka. Itulah yang dikatakan M Ichsan Kartika, atau akrab disapa Bang Ika.

Menurutnya, kalau pengurus mencari ‘makan’ dari perkumpulan sepakbola amatir, jelas salah besar karena mereka minim sponsor dan merintis untuk menjadi profesional.

Ika, besar di Bekasi dah sering menangani klub-klub lokal di bawah naungan PSSI Asosiasi Kota (Askot) Bekasi, “Banyak talenta pemain yang muncul dari Bekasi khususnya untuk klub liga Indonesia maupun Timnas,” ujar Ika, sambil mengatakan dirinya sibuk dengan pekerjaan sebagai karyawan BUMN, sehingga seritifkasi pelatih masih tipe C.

Saat ini Ika, menangani tim yang dipersiapkan untuk kegiatan Kompetisi Usia 20 Tahun yang rencanakan diselenggarakan oleh PSSI Kota Bekasi, tim sepak bola Benteng Presai (Benpres), Rawa Lumbu, Kota Bekasi sedang melakukan persiapan tim usia 20 tahun.

Seni melatih sepakbola amatir, menurut Ika, banyak senangnya karena mereka (para pemain) mau menuruti dan selalu ingin tampil baik, “Biasanya klub menjadi batu loncatan mereka dan kalau ada klub profesional meliriknya, bukan tidak mungkin derajat pemain dan klub naik,” jelas Ika.

Namun ketika menjadi pelatih klub lokal, selain harus memakai kocek sendiri, dirinya juga harus rela mengorbankan waktu antara keluarga dan hobi, “Namanya juga hobi, jadi gimana gitu,” kata Ika, ketika disinggung soal acara kumpul keluarga.

LUPA POSISI

Saat melatih, kata Ika, pemain amatir selalu lupa akan posisinya ketika bertanding.

“Mental pemain, di mana kurang konsisten terhadap posisi dan tugas dan tangung jawab pada area bermain sepak bola, mulai pemain belakang, tengah dan depan serta transisi pergantian pemain,” jelas Ika, menilai para pemain.

Ika mengaku dalam setiap memberi latihan kepada pemain, selalu menerapkan filanesia yakni filosofi sepakbola Indonesia. Adapun yang menjadi perhatian pemain belakang untuk dapat melakukan proses instalasi keberhasilan dapat mencegah, menghalangi, merebut, memotong, menguasai, bola untuk tidak kebobolan.

“Sedangkan untuk pemain tengah, menerapkan distribusi bola ke depan, membuat, membentuk dan menciptakan sebuah peluang yang dapat menciptakan gol,” kata Ika. (saban/fs)