Monday, 16 September 2019

Ayem Tenterem

Senin, 27 Mei 2019 — 6:30 WIB

Oleh Harmoko

RAKYAT mendambakan kehidupan aman tentram. Dalam istilah orang Jawa ayem tenterem. Lebih lengkapnya: ayom, ayem, tenterem.

Ayom adalah merasa terayomi atau terlindungi. Ayem adalah perasaan tenang karena sudah mendapat perlindungan dari negara. Jika sudah terayomi dan merasakan hati yang ayem, maka kehidupan masyarakat akan tenterem (menikmati kehidupan dengam situasi yang aman, damai, dan menyenangkan).
Penak golek sandang pangan – nyaman untuk mencari nafkah dan penghidupan.
Tak ada pertikaian. Keributan hanya terjadi dalam canda-ria, olok olok mengundang tawa untuk kemeriahan, kegembiraan dan keakraban.
Syarat tenterem jika cukup tersedia kebutuhan pangan,sandang, dan papan. Ini kebutuhan paling mendasar (primer). Lebih tinggi lagi, melengkapi  kebutuhan rumah tangga seperti membeli alat/ sarana transportasi, kemampuan menabung untuk kesehatan, pendidikan dan traveling (rekreasi).

Kesejahteraan yang makin membaik membuat masyarakat kian tentram secara ekonomi (materi). Sementara kesejahteraan akan tercapai jika ditopang pertumbuhan ekonomi yang semakin membaik.
Tingginya aktivitas masyarakat yang ditandai kemacetan di jalan- jalan indikasi adanya pertumbuhan ekonomi. Segala macam kendaraan yang mahal harganya tumpah ke jalanan, terutama di kota – kota besar membuktikan adanya kemampuan finansial. Setidaknya bagi mereka yang memiliki kemampuan lebih.
Begitu pun banyaknya sekolah bermutu, meski biaya mahal, menjadi incaran para orangtua.
Juga rumah sakit bukan hanya untuk mencari kesembuhan, namun juga untuk kecantikan. Gym dan tempat kebugaran ramai dikunjungi members. Juga sarana hiburan.

Semua kondisi di atas didapat dengan pertumbuhan ekonomi dan terjaminnya stabilitas keamanan.
Maknanya ekonomi akan tumbuh dengan baik, kesejahteraan dapat terwujud jika didukung oleh stabilitas keamanan. Tanpa stabilitas yang kuat dan mantap, sulit menciptakan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.
Karena itu jaminan keamanan dan stabilitas menjadi prioritas negara untuk mewujudkannya.
Sedikit konflik dan rusuh berdampak sistemik. Merugikan masyarakat.
Lebih dari itu pertikaian hanya meninggalkan luka dalam dan  goresan yang tak terlupakan.
Untuk itu stop pertikaian apa pun bentuknya. Singkirkan prasangka buruk dan saling curiga.
Mari kita bersama songsong kehidupan yang penuh suasana kedamaian. Kehidupan “Toto tenterem kerto raharjo.”
Suatu keadaan yang aman, tenang dan menyenangkan.Tanpa pertikaian, tanpa kecurigaan, dan tanpa gesekan serta pertentangan.(*)