Sunday, 18 August 2019

Ini Alasan Ustadz Sambo Mangkir dari Panggilan Pertama Polisi

Senin, 27 Mei 2019 — 13:34 WIB
Ustad Sambo (kiri) dan Kuasa Hukumnya, Hendarsam (kanan) di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Senin (27/5/2019). (cw2)

Ustad Sambo (kiri) dan Kuasa Hukumnya, Hendarsam (kanan) di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Senin (27/5/2019). (cw2)

JAKARTA – Ustadz Sambo mengungkaplan alasan dirinya mangkir dari panggilan polisi pada Rabu (22/5/2019) lalu. Ia menjelaskan, saat itu dirinya perlu menemui kuasa hukum dan berkonsultasi terkait kasus dugaan makar Eggi Sudjana.

“Saya pikir panggilan pertama itu, ya pertama ya saya masih istilahnya baru mempelajari dulu kan, saya belum ketemu lawyer. Saya ketemu lawyer kan setelah tiga hari setelah itu. Baru saya datang,” ujar Ustadz Sambo di Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan, pada Senin (27/5/2019).

“Setelah saya konsultasi sama Iawyer, kata lawyer, ‘ya hadapi saja ustadz’. Saya pikir ngapain kita harus sembunyi-sembunyi, ya saya hadapi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, ia memutuskan untuk hadir pada panggilan kedua yang diagendakan hari ini, pukul 10.00 WIB oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya. Menurutnya, ia harus gentle menghadapi pemeriksaan dari polisi.

“Makanya atas saran lawyer-lawyer ini saya harus hadapi. Ya sudah Saya datang. Jangan sampailah Ustadz diciduk, diborgol. Gitu, ya nggak lah. Kita gentlement saja kalau memang ini ya kita hadapi,” pungkasnya.

Diketahui Ustadz Sambo diperiksa oleh penyidik sebagai saksi atas kasus dugaan makar dengan tersangka Eggi Sudjana. Ini merupakan panggilan kedua dari penyidik terkait kasus tersebut.

Eggi Sudjana sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan makar dan pernyataan ‘people power’ oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimun) Polda Metro Jaya, pada Selasa (7/5/2019) lalu. Kemudian ia resmi ditahan di Rumah Tahanan (Rutan) Polda Metro Jaya sejak 14 Mei 2019 hingga 20 hari kedepan.

Terkait kasus tersebut, Eggi disangkakan Pasal 107 KUHP dan atau 110 KUHP Jo Pasal 87 KUHP dan atau Pasal 14 ayat 1 dan ayat 2 dan atau Pasal 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana. (cw2/mb)