Friday, 23 August 2019

Sadar Kamtibmas

Jumat, 31 Mei 2019 — 7:03 WIB

SEPEKAN menjelang Hari Raya Idul Fitri 2019, Kota Jakarta sudah mulai ditinggalkan oleh warga yang mudik ke kampung halaman. Jutaan warga sudah mulai ‘eksodus’ bergerak ke berbagai penjuru, ke arah Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Begitupula di Tol Jakarta-Merak sudah dipadati kendaraan pribadi yang akan menyeberang ke Sumatera.

Selama 10 hari ke depan,  roda kehidupan Kota Jakarta dan beberapa kota penunjang seperti Tangerang, Depok dan Bekasi akan berbeda dari hari-hari biasa. Kementerian Perhubungan memprediksi, total populasi pemudik dari Jabodetabek berkisar 14.901.468  jiwa. Ini berdasarkan survei Badan Penelitian dan Perhubungan terhadap lebih dari 7 ribu responden.

Situasi ‘abnormal’ ini tentu berimbas pada banyak aspek. Dari aspek kelancaran lalu lintas, warga terbebas dari kemacetan yang setiap hari mendera Ibukota dan kota penunjang. Tapi di sisi kamtibmas, situasi lengang ini justru harus diwaspadai. Karena ak ada kata ‘libur’ bagi pelaku kriminal.

Sebanyak 160.335 personel gabungan dari Polri, TNI, Satpol PP, kementerian dan dinas terkait, hingga Pramuka dan ormas dilibatkan dalam Operasi Ketupat 2019. Kapolri Jenderal Tito Karnavian menjelaskan, operasi akan dilaksanakan selama 13 hari mulai 29 Mei hingga 10 Juni 2019.

Fokus pengamanan menyangkut berbagai aspek, utamanya keamanan pemudik, daerah-daerah yang ditinggal ‘eksodus’ warga serta keamanan warga yang tidak mudik. Selain juga obyek vital seperti terminal, pelabuhan, pusat perbelanjaan, kantor pemerintah dan obyek lainnya.

Situasi dan kondisi keamanan pada Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena bersamaan dengan tahun politik serta memanasnya situasi politik pasca Pemilu 2019. Secara tidak langsung kondisi ini bisa berimbas pada kamtibmas di Ibukota.

Tanggung jawab memelihara kamtibmas di Ibukota, bukan cuma berada di pundak aparat keamanan. Dengan jumlah personel yang terbatas, aparat tidak bisa mengawasi seluruh pelosok Ibukota. Itu sebabnya partisipasi, kesadaran dan peran masyarakat amat dibutuhkan.

Di Ibukota, terdapat 44 kecamatan, 267 kelurahan dengan dengan sekitar 2.709 RW serta sekitar 30.246 ribu RT. Warga melalui wadah pokdar kamtibmas, harus menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan, menjadi mata dan telinga polisi. Bila semua elemen sadar kamtibmas, situasi aman dan kondusif akan tercipta.

Seluruh komponen masyarakat harus punya satu tekad yang sama, memelihara dan merawat keamanan Ibukota dari potensi gangguan dalam bentuk apapun. **