Wednesday, 19 June 2019

Pebinor Digebuki Dekat Apotik

Minggu, 2 Juni 2019 — 16:01 WIB
gerebek

SEBAGAI pebinor (perebut bini orang), Markaban, 25, benar-benar gerak cepat. Begitu cewek idamannya, Prihatmi, 24, sudah bercerai dari suaminya, jadwal “apel”-nya dipersering. Tapi ternyata bekas suami Prihatmi tidak terima, sehingga Markaban pun digerebek. Dia mencoba kabur, tapi terus dikejar sampai apotek dan digebuki sampai babak belur.

Sekarang praktisi pebinor dan pelakor makin sering diberitakan. Mereka bersaing merebut simpati sasaran, tak peduli bisa berhadapan dengan hukum. Tapi karena pebinor dan pelakor masa kini semakin pinter, ada juga yang berkedok telah memiliki surat cerai, tak peduli dokumen surat perceraiannya aspal. Bila demikian kejadiannya, baik sang pebinor maupun wanita yang jadi sasarannya, bisa kena sanksi huku, semuanya.

Kejadian seperti ini kini dialami Prihatmi, warga Kanigaran Probolinggo (Jatim). Dia meyakinkan PIL-nya sudah punya surat cerai. Percaya akan dokumen itu asli adanya, Markaban langsung tancap gas atau gas pol. Tentu saja Mugiyo, 32, selaku suami Prihatmi terheran-hera. Kapan cerainya, kok tiba-tiba Prihatmi punya bukti surat cerai? “Aku memang pernah mau gugat cerai, tapi tak tarik kembali.” Kata Mugiyo di depan polisi.

Sebetulnya Markaban sudah lama terpikat pada Prihatmi, tapi karena statusnya masih bini orang, aksinya selama ini sebatas telpon-telponan dan SMS-an saja. Jika pinjam istilahnya Amien Rais, ini selingkuh kelas enteng-entengan saja, bukan mau makar atau menggulingkan rumahtangga orang. Cuma selingkuh model begini kan kurang greget, masak selingkuh kok hanya opini tanpa eksekusi.

Prihatmi sendiri bisa menerima cinta Markaban, kebetulan dia sendiri sedang proses cerai dengan Mugiyo suaminya. Entah bagaimana cara dan akalnya, tahu-tahu dia sudah memiliki surat cerai yang diterbitkan Pengadilan Agam Probolinggo. Bukti ini lalu ditunjukkan kepada si doi. Maka sejak itu Markaban gaspol saat mendekati Prihatmi. Bukan sekedar SMS dan telpon, tapi langsung blusukan ke rumah si doi di Desa Tirtonegaran Kecamatan Kanigaran.

Tentu saja Markaban makin berani, karena faktanya suami Prihatmi juga tak pernah kelihatan. Jadi apel sampai pukul 24.00 pun berani. Tapi dia lupa bahwa Mugiyo memang kerja di luar kota, sehingga jarang di rumah. Maka bila Mugiyo “jarum super”, dia malah “superman” yang selalu berhasil menunjukkan keperkasaannya di atas ranjang Prihatmi.

Lama-lama Mugiyo dengar juga, sehingga dia kemudian menggerebeknya. Markaban yang tertangkap basah berusaha kabur, tapi berhasil dikejar sampai depan apotek. Dalam kondisi babak belur barulah Markaban diserahkan ke polisi. Tapi dalam pemeriksaan Markaban menunjukkan bukti bahwa gendakannya sudah bercerai dengan Mugiyo.

Tentu saja Mugiyo membantah. Memang dulu pernah mengajukan gugatan cerai. Tapi setelah dipikir-pikir dampak dan implikasinya, gugatan ditarik kembali. Karenanya dia menduga, surat bukti yang dipegang Markaban aspal. “Jadi kalau dia tak gebuki sampai babak belur di depan apotek, ya sah-sah saja, wong Prihatmi masih istri saya.” Ujar Mugiyo membela diri.

Untung digebuki dekat apotek, jadi beli obat merah gampang. (Gunarso TS)