Saturday, 21 September 2019

Mantan Dirut Pertamina Divonis 8 Tahun Kejaksaan Pikir-pikir

Senin, 10 Juni 2019 — 23:36 WIB
Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan (rihadin)

Eks Dirut Pertamina Karen Agustiawan (rihadin)

JAKARTA -Kejaksaan masih menyatakan pikir-pikir atas putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta Mantan Dirut Pertamina yang memvonis terdakwa Ir. Galaila Karen Kardinah alias Karen Galaila Agustiawan 8 tahun penjara denda sebesar Rp 1 miliar subsidair 4 bulan kurungan.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejagung Mukri menerangkan, merujuk putusan Pengadilan Tipikor Jakarta atas vonis tersebut, Kejaksaan Agung menyatakan masih pikir-pikir apakah akan mengajukan upaya hukum lanjutan atau tidak.

“Kami menunggu putusan resmi pengadilan. Sesuai ketentuan KUHAP, para pihak diberikan waktu selama 7 hari mengambil sikap,” ujar Kapuspenkum Senin (10/6/2019) malam.

Mantan Direktur Utama PT Pertamina itu dinyatakan bersalah karena melanggar Pasal 3 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Putusan tersebut lebih rendah dari tuntutan tim jaksa penuntut umum (JPU) yakni 15 tahun penjara dan pidana denda sebesar Rp 1 miliar subsidair 6 bulan kurungan, serta
membayar uang pengganti sebesar Rp 284.033.000.000 subsidair 5 tahun penjara.

Sebelumnya tim JPU juga menjerat terdakwa dengan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 UU
RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Kasus yang merugikan keuangan negara hingga Rp 568 miliar itu bermula pada 2009. Ketika itu Pertamina melakukan kegiatan akuisisi (investasi nonrutin) berupa pembelian sebagian aset milik ROC Oil Company Ltd di lapangan BMG Australia.

Kegiatan itu merujuk agreement for sale and purchase – BMG Project tanggal 27 Mei 2009 senilai 31,917,228 Dollar Amerika Namun, dalam pelaksanaannya justru ditemui dugaan penyimpangan terkait pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi dalam pengambilan keputusan investasi, yakni tanpa kajian kelayakan (feasibility study) berupa kajian secara lengkap (final due dilligence), serta tanpa adanya persetujuan dari dewan komisaris.

Walhasil, kasus itu menyebabkan peruntukan dan penggunaan dana 31,492,851 Dollar Amerika serta biaya-biaya yang timbul lainnya sejumlah 26,808,244 Dollar Australia tidak memberikan manfaat atau keuntungan kepada PT Pertamina, khususnya dalam rangka penambahan cadangan dan
produksi minyak nasional. (Adji/b)