Wednesday, 19 June 2019

Teladan Kerukunan

Senin, 10 Juni 2019 — 5:30 WIB

Oleh Harmoko

AKSI silaturahmi telah dlakukan oleh masyarakat Indonesia melalui pulang kampung sering disebut mudik Lebaran. Selama mudik, lazimnya digunakan untuk menyambangi orangtua, keluarga, family, sahabat,kerabat dan teman. Tujuannya, tak lain membangun silaturahmi, selain tentu saja saling bermaaf – maafan selagi dapat bertemu – tatap muka di hari yang fitri. Meski,  meminta maaf memang tak harus menunggu di hari Lebaran, tetapi setidaknya di saat bertemu itulah menjadi momen yang indah untuk saling mengungkap perasaan bersalah. Momen ini sekaligus makin menyadarkan kepada kita bahwa sebagai manusia tentu saja penuh dengan kekurangan.

Lebih luas lagi  aksi silaturahmi secara masal dan serentak ini dapat mengurangi ketegangan yang terjadi setelah gelaran pileg dan pilpres.

Kita rasakan bersama, pemilihan umum (pemilu), pemilihan presiden (Pilpres) dan pemilihan legislatif (Pileg) 2019 berlangsung dengan ketegangan tinggi, dimana isu sensitif dikerahkan dipergunakan untuk kepentingan politik.  Perdebatan di media sosial yang mengarah pada isu SARA (Suku, agama, ras dan antargolongan) yang tidak sehat bagi iklim demokrasi.

Kini Pilpres dan Pileg 2019 sudah berlalu. Saatnya menjalin persatuan kembali. Perbedaan pilihan yang ada di masyarakat Indonesia, pada 17  April 2019 lalu, tidak boleh menjadi hambatan untuk mewujudkan kehidupan yang rukun dan damai.

Kerukunan di antara sesama anak bangsa dan umat  adalah modal kia sebagai bangsa Indonesia dan modal yang harus dilestarikan. Kita harus mengutamakan semangat kebersamaan, tetap saling menghormati persamaan hak dan kewajiban serta saling menghargai perbedaan dalam berkeyakinan yang dijamin oleh undang undang.

Negara menjamin dan melindungi kebebasan setiap warga negara untuk memilih pemimpin dan wakilnya masing-masing dan sudah terlaksana dengan baik.

Kita menyaksikan, selama ini, kerukunan antar masyarakat terutama antar umat beragama menjadi salah satu hal yang sangat penting diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Agama Islam, yang dianut mayoritas warga Indonesia,  mengajarkan pentingnya silaturahmi. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi, demikian guru guru agama kita mengajarkan.

Silaturahmi akan memperpanjang umur dan meperluas rezeki.  Sebagaimana Rasulullah  bersabda: “Orang yang suka mengunjungi sanak saudaranya serta menjalin silaturahmi akan dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya”.

Dari Abu Muhammad Jubair bin Muth’im ra, dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda; “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan (silaturahmi)”.

Demikianlah keutamaan menyambung tali silaturahmi dan ganjaran yang kita peroleh jika melakukannya ataupun meninggalkannya.

Kekuatan kerukunan dan toleransi bangsa telah diuji dalam pemilihan presiden dan anggota legislatif yang baru lalu. Dengan warga yang sangat majemuk, dengan bingkai NKRI, pilar-pilar penyangganya tetap harus dijaga keutuhannya.

Indonesia adalah rumah besar. Dan rumah besar ini harus membuat kita semua yang berada di dalamnya selalu bersyukur sebagai bangsa Indonesia.

Kita patut bersyukur karena mayoritas warga telah melakukan aksi nyata bersilaturahmi tanpa melihat latar belakang status sosial ekonomi dan aspirasi politiknya, termasuk beda pilihan dalam pilpres.

Ini modal dasar membangun kebersamaan, meningkatkan persatuan dan kesatuan.

Para tokoh dan elit politik saatnya memberi keteladanan silaturahmi dalam membangun kerukunan seperti ditunjukan putra putri presiden SBY di hari Lebaran kemarin, dengan mengunjungi istana negara dan menyambangi kediaman para mantan presiden RI, khususnya BJ Habibie, Megawati dan Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. (*).