Monday, 16 September 2019

Manajemen Mudik 2019 Masih Perlu Dievaluasi

Selasa, 11 Juni 2019 — 4:44 WIB

MUDIK Lebaran sudah menjadi tradisi hajatan nasional setiap tahun. Jutaan warga ‘eksodus’ menuju kampung halaman baik menggunakan transportasi massal maupun kendaraan pribadi baik mobil maupun sepeda motor. Kondisi ini jelas membuat pemerintah harus melakukan persiapan matang guna malayani pemudik supaya aman dan lancar selama dalam perjalanan.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, mudik Lebaran 2019 juga pemerintah berupaya melakukan pelayanan terbaik agar horor  kemacetan lalu lintas serta kecelakaan bisa diminimalisir. Hasil evaluasi, pemerintah mengklaim secara nasional mudik Lebaran tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Indikatornya, kemacetan parah baik di ruas tol maupun jalur alternatif tidak terjadi. Di Tol Lampung dari arah Pelabuhan Bakauheni sempat terjadi kemacetan panjang karena sistem gate toll yang dinilai lamban.

Di sisi lain, kecelakaan lalu lintas menurun drastis. Tahun 2018 pada H+2 Lebaran kecelakaan tercatat 1.410 kejadian dengan korban tewas 318 orang. Sedangkan tahun ini kecelakaan tercatat 509 kasus, dengan korban tewas 120 orang. Berbagai stratregi rekayasa lalu lintas dilakukan, antara lain penerapan one way system atau sistem satu arah di tol, serta contra flow dilakukan guna mengurai kepadatan kendaraan.

Namun berbanding terbalik saat arus mudik, horor kemacetan justru terjadi saat arus balik pada Sabtu (8/6), Minggu (9/6) hingga Senin (10/6) dinihari. Kemacetan luar biasa bukan hanya terjadi di ruas Tol Cikampek menuju Jakarta, melainkan juga jalur arteri hingga waktu tempuh menjadi jauh lebih lama.

Sebagai contoh, dari Brebes, Jateng menuju Jakarta harus ditumpuh 14-15 jam. Jalur Pantura pun tidak luput didera kemacetan. Dari Karawang menuju Jakarta butuh waktu 8 jam. Kemacetan parah juga terjadi di Tol Lampung serta di Jalinteng menuju Pelabuhan Bakauheni. Antrean kendaraan yang akan masuk kapal membuat kemacetan hingga berkilo-kilometer.

Pantauan koran ini di lapangan, salah satu pemicu horor macet baik di Tol Cikampek maupun Tol Lampung, simpulnya ada di gate toll. Taping kartu tol membutuhkan waktu dua hingga tiga detik, sementara gate toll atau gerbang tol yang disediakan tidak mampu menampung ribuan kendaraan yang datang.

Bisa disimpulkan, manajemen mudik tahun ini masih perlu dievaluasi karena kemacetan parah saat mudik, berpindah pada waktu arus balik. Ini PR besar bagi seluruh stakeholder. Simpul macet di gate toll mungkin bisa diatasi dengan menambah gerbang layanan taping tiket dengan jarak 50-100 meter dari pintu utama guna memotong waktu. Sedangkan kemacetan di area menuju Pelabuhan Bakauheni, pemerintah harus mengkaji kembali layanan penyeberangan yang hanya menyediakan 7 dermaga.

Pada situasi normal, 7 dermaga di Pelabuhan Bakauheni sudah cukup untuk melayani kendaraan maupun penumpang. Tapi pada libur nasional seperti mudik Lebaran maupun Tahun Baru di mana jumlah kendaraan melonjak tajam, bongkar muat kapal di 7 dermaga tak mampu mengimbangi ribuan kendaraan yang datang. Alternartif yang mungkin bisa dilakukan, membuka rute baru Pelabuhan Panjang  menuju Tanjung Priok pada musim mudik maupun hari besar lainnya.

Manajemen Mudik 2019 masih harus dievaluasi dan dibenahi. Ke depan, manajemen mudik harus lebih baik lagi dan koordinasi lintas sektor antar-stakeholder perlu terus ditingkatkan. **