Sunday, 16 June 2019

Hilangkan Kesan Mudik = Macet

Rabu, 12 Juni 2019 — 4:46 WIB

MASIH seputar arus mudik (balik) Lebaran. Melalui kolom ini ( Sabtu, 25 Mei 2019) sudah disinggung perlunya mengantisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang bakal terjadi terkait pemberlakuan sistem satu arah di sepanjang ruas tol Cikarang Utama – Cipali – Brebes pada arus mudik dan balik Lebaran.

Antisipasi hendaknya lebih diutamakan pada puncak arus mudik dan balik mengingat di saat itulah kemungkinan terjadinya penumpukan arus kendaraan. Pada arus mudik relatif tidak terjadi kendala berarti. Penumpukan kendaraan yang berakibat stagnan di gerbang tol keluar baik di Cirebon, Tegal, Pemalang, Semarang hingga Surabaya, tidak terjadi.

Sistem satu arah ( one way) yang diberlakukan pada arus mudik cukup berhasil. Ini ditopang karena pemudik terpecah di pintu keluar Brebes,  Pejagan, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Semarang, Solo hingga daerah di Jawa Timur. Di sisi lain, pemudik meninggalkan Jakarta dan sekitarnya menuju kampung halaman tidak dilakukan serentak pada hari yang sama, tetapi bertahap, mulai H-5  (Kamis,31 Mei) hingga H-1. Bahkan, pada H-1 ( Selasa, 4 Juni ), jalanan dapat dikatakan sangat lancar. Pemudik benar – benar menikmati jalan bebas hambatan. Memasuki tol Cikpampek hingga kota Tegal hanya ditempuh 3 jam perjalanan.

Kondisi berbeda terjadi pada arus balik, di mana kendaraan tertuju pada satu titik, yakni gerbang utama Cipali – Cikampek – Jakarta. Hari yang dipilih pun sama, Sabtu (8 Juni) dan Minggu (9 Juni). Kepadatan sudah mulai dirasakan Sabtu siang di ruas tol Semarang – Tegal. Meski one way diterapkan tampaknya tidak bisa menampung besarnya arus kendaraan menuju Jakarta. Kepadatan pun terjadi mulai Cirebon, dan lalu lintas stagnan mendekati gerbang tol utama Cikampek. Tak heran jika dari Cirebon menuju Cikampek harus menempuh perjalanan lebih 10 jam atau Cikampek – Karawang lebih dari 3 jam perjalanan.

Kepadatan tak hanya terjadi di jalan tol, imbasnya jalan arteri pun padat merayap baik arah Jakarta maupun dari Jakarta menuju Pantura atau ke jalur Selatan. Dampak kemacetan sangat dirasakan para pemudik dengan segala kompleksitas permasalahannya. Tak terhitung berapa liter BBM terbuang akibat kemacetan. Kalau setiap kendaraan tersedot 10 liter selama kemacetan , dikalikan harga BBM, sebut saja premium Rp7.000/liter berarti 10xRp7.000 = Rp70.000. Jika 1 juta unit mobil maka 1.000.000 x Rp70.000 = Rp70.000.000.000. Ini kerugian meteri dari BBM, belum lagi beragam kerugian lainnya seperti aspek psikologis, kesehatan dan lainnya.

Memang ada istilah “Nikmatnya mudik, selain menyantap ketupat opor ayam di kampung bersama keluarga besar, juga macet ..” Maknanya kalau mau mudik harus siap untuk macet. Istilah ini sebenarnya untuk menghibur diri sendiri agar tidak stres di jalanan.

Kita, pemerintah, para pemangku kebijakan tak ingin terdapat image mudik = macet.Kita semua berharap mudik = tidak macet. Mudik = lancar, aman, nyaman, dan bahagia.Berbagai upaya telah dilakukan, hasilnya? Masyarakat boleh menilainya, masyarakat lah yang merasakan.(*).