Wednesday, 19 June 2019

Kapolri: Polri Tak Pernah Sebut Dalang Kerusuhan adalah Kivlan Zen

Kamis, 13 Juni 2019 — 11:38 WIB
Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri), Kapolri Jendral Tito Karnavian (kedua dari kiri), di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019). (cw2)

Gubernur DKI Anies Baswedan (kiri), Kapolri Jendral Tito Karnavian (kedua dari kiri), di Lapangan Silang Monas, Jakarta Pusat, Kamis (13/6/2019). (cw2)

JAKARTA – Kapolri Jenderal Tito Karnavian menegaskan tidak pernah menyebut Mayjen (Purn) Kivlan Zen sebagai dalang dari Kerusuhan 21 – 22 Mei 2019.

“Tolong dikoreksi bahwa dari Polri tidak pernah mengatakan dalang kerusuhan itu adalah Pak Kivlan Zen, nggak pernah. Yang disampaikan oleh Kadiv Humas pada saat press release di Polhukam adalah kronologi peristiwa di 21-22 (Mei),” ujar Tito usai apel siaga sidang sengketa Pemilu di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Rabu (13/6/2019).

Diduga aksi ricuh tersebut merupakan settingan. Pasalnya, polisi menemukan berbagai barang bukti berupa senjata tajam dan juga bom molotov. Hal ini menunjukkan kalau adanya oknum tertentu yang sudah mempersiapkan peralatan tersebut.

“Di mana ada dua segmen yakni aksi damai dan aksi yang sengaja untuk melakukan kerusuhan. Kalau nggak sengaja kok nggak ada penyampaian pendapat, kok langsung menyerang, yang jam setengah 11 malam, kok ada bom molotov. Bom molotov itu kan pasti disiapkan, bukan peristiwa spontan pake batu seadanya. Ini ada bom molotov, panah, parang, ada roket mercon, itu pasti dibeli sebelumnya. Kemudian ada mobil ambulans yang isinya bukan peralatan medis, tapi peralatan kekerasan,” jelas Tito.

Namun ia membantah menyebut Kivlan sebagai dalang dari kerusuhan tersebut. Menurutnya pada press relase yang diadakan pun, Polri menjelaskan perihal korban dan kronologis aksi.

“Itu memang kalau saya berpendapat peristiwa jam setengah 11 dan selanjutnya sudah ada yang menyetting. Tapi tidak menyampaikan itu Pak Kivlan Zen, hanya disampaikan dalam peristiwa itu ada korban sembilan orang meninggal dunia, disamping luka-luka baik dari kelompok perusuh maupun dari petugas. Petugas itu 237 yang terluka, sembilan dirawat, satu rahang pecah. Banyak tidak dicover,” imbuhnya.

Ia menjelaskan, keterlibatan Kivlan Zen ialah sebagai pihak yang memiliki senjata api di luar kepolisian. Meski begitu ia tidak menutup kemungkinan adanya pihak selain kelompok Kivlan yang juga memiliki senjata api ilegal.

“Bapak Kivlan Zen, dengan kelompoknya yang memiliki senjata api. Kita tidak tuduh sebagai dalang, tidak. Tapi katakan bahwa ada pihak lain diluar petugas yang juga terindikasi akan gunakan senjata api dan mungkin ada pihak lain yang kita tidak deteksi menggunakan senjata api,” pungkas Tito. (cw2/yp)