Friday, 23 August 2019

Karena Cemburu Soal PIL Suami-Istri Mati Bersama

Kamis, 13 Juni 2019 — 6:55 WIB
gantung

LAZIMNYA pil, bisa sembuhkan penyakit. Tapi kalau PIL yang gede sekali dan bisa berjalan, bisa berujung maut. Contohnya Ny. Lasmi, 55, dari Surabaya, dia mati dianiaya suami gara-gara punya PIL. Mardikan, 56, selaku pembunuh karena frustrasi atas kelakuan istri akhirnya malah ikutan mati dengan cara gantung diri.

PIL di era gombalisasi bisa bermakna lain. Bukan lagi tablet obat, tapi Pria Idaman Lain. PIL satu ini memang mengasyikkan bagi pihak wanita, tapi sangat menyakitkan bagi pihak lelaki selaku suami yang resmi. Bagaimana tidak sakit hati, “aset” yang mestinya menjadi milik pribadi, ternyata diobral ke mana-mana sehingga lelaki lain bisa ikut menikmati.

Lasmi dan Mardikan, adalah pasangan suami istri yang tidak mujur. Sampai usia oversek (lebih 50 tahun), belum punya rumah pribadi. Di Surabaya tinggal di rumah kos-kosan bilangan Kupang Gunung Timur. Entah apa usaha mereka tidak jelas. Yang pasti, Lasmi selaku istri tidak setiap hari tinggal di situ. Kabarnya dia pulang ke Mojokerto.

Namanya tinggal di rumah kos-kosan berdinding bambu, tentu saja ruangannya tidak kedap suara. Apa yang dibicarakan, bisa didengar kos-kosan sebelah. Tapi mereka nyaman-nyaman saja, tak pernah merasa takut disadap KPK, wong bukan anggota DPR dan bukan pula politisi yang suka ngatur-ngatur jabatan orang.

Tapi tetangga sebelah sejak beberapa hari lalu mendengar kata-kata sensitif dari mulut Mardikan maupun Lasmi. Suami menuduh istrinya punya PIL, dan istrinya membantah pula. Tekanan suara mereka memang sedang-sedang saja, sehingga bila pinjam istilah Amien Rais, inilah yang namanya ribut enteng-entengan. Karenanya tetangga juga segan untuk intervensi maupun menegurnya.

People power memang tak terjadi di rumah kos itu. Cuma beberapa hari lalu ada tetangga kaget melihat Mardikan nampak tidur berdiri. Begitu dicermati, ternyata dia sudah tidak bernapas. Dilehernya terlihat lilitan plastik warna biru. Warga geger dan berusaha masuk rumah. Lho, kok di dalam ditemukan juga jasad Lasmi dalam kondisi mandi darah.

Polisi segera dihubungi. Dari pemeriksaan di lapangan, ditemukan pula surat wasiat yang sepertinya tulisan Mardikan. Dipadu dengan cerita warga, barulah terbangun kerangka ceritanya. Sebelum Mardikan bunuh diri, dia sempat ribut dengan istrinya gara-gara menuduh punya PIL. Saking jengkelnya, Mardikan tega menganiaya istrinya hingga tewas. Setelah itu baru dia menulis wasiat untuk keluarga yang ditinggalkan, dan kemudian mengikat lehernya dengan tali plastik dalam rangka bunuh diri.

Paling mengerikan kalau Mardikan menulis surat wasiat setelah gantung diri. (Gunarso TS)